Word up cheats Word Trek answers Caterpillar Word Trek answers Rabbit Word Trek answers Rat Word Trek answers Average Joe Word Trek answers Astronaut Word Trek answers Gladius
Tradisi Meng-Islam-kan Si Gadis Kecil di Kabupaten Sidrap - SEMPUGI
Berita Budaya

Tradisi Meng-Islam-kan Si Gadis Kecil di Kabupaten Sidrap

Written by HS Masagenae

Sidrap 25 desember 2015

Saat itu salah satu keponakanku sedang kupakaikan baju bodo’ (sebutan baju adat Sulawesi-Selatan) sembari menghiasi wajah rupawannya. Bagiku, untuk menghadapi seorang gadis jelita berumur 5 tahun butuh sedikit kesabaran karena prosesinya agak rumit. Biasanya anak seumuran ia kelakuannya sangat lincah, mulai dari cerewet, rewel dan tidak bisa diam. Belum lagi banyak item-item atau aksesoris sebagai pelengkap baju adat tersebut. Aku teringat pada seorang seniorku, ia mengatakan “Malebbi sekali kuliat pake baju bodo’ saat aku memposting kegiatan itu di salah satu akun sosial mediaku.

20151223_092631

Kanaya Almahyrah Hamka dan Ainun Shafirah Gizani Hendra

Si gadis kecil itu akan melakukan tradisi “lae paselleng” (di Islamkan) orang bugis biasa menyebutnya “lae katte” atau khitanan untuk anak perempuan. Aku sempat bertanya kepada sanro ana’, tolak ukur apa yang digunakan sehingga si anak bisa di katte’? beliau menjawab “Yang penting pintarmi mengaji”.

Banyak tahap-tahap yang harus dilakukan dalam tradisi mappaselleng seperti, si anak terlebih dahulu dibimbing untuk wudhu karena ia harus dalam keadaan bersih, kemudian dimasukkan ke dalam kamar tempatnya di katte’, di sana sudah ada sanro ana‘  sedang menuggunya beserta wadah yang ia siapkan yang telah di isi beras, gula merah, kelapa, satu tandan pisang, dan lilin, dalam bahasa bugis di sebut mappatudang werre’.

Setelah itu sanro ana’ akan membacakan ayat-ayat al-qur’an dan kemudian membimbing si anak membaca dua kalimat syahadat sebanyak 3 kali, lalu memotong/menggoreskan sedikit pisau pada daging di daerah intimnya (seperti hanyalnya khitanan pada anak laki-laki) dan menyalakan lilin sambil menggenggamnya untuk di putar depan badan si anak sebanyak 3 kali, setelah itu si anak diarahakan meniup lilin tersebut. Terakhir prosesinya di tutup dengan salah seorang kerabat membopong si anak keliling rumah.

Karena tanggal mappaselleng yang diadakan itu bertepatan dengan kelahiran nabi Muhammad saw, maka keluarga Pak aji (sebutanku untuk bapak) merangkaikannya dengan acara maulid atau dalam bahasa bugis disebut Mammaulu’

*****

Di pelosok Indonesia mungkin banyak yang melakukan tradisi ini dengan cara yang berbeda, namun ada juga beberapa orang yang tidak melakukannya. Di Indonesia sendiri proses khitanan pada perempuan masih kontroversi. Ada wacana yang mengatakan bahwa khitanan pada anak-anak laki-laki diwajibkan sedangkan khitanan pada anak-anak muslimah (perempuan) hanya sunnah bukan wajib. Serta bukan tanpa alasan sama sekali orang tua tidak mau  melakukan khitanan untuk anak perempuannya, tentu ada tolak ukur sehingga beberapa orang tua yang tidak ingin melakukan seperti alasan medis.

Tapi bagiku, prosesi ini merupakan salah satu bentuk simbolis dalam mengislamkan si anak gadis karena dalam prosesinya ada ritual di mana si anak mengucapkan dua kalimat syahadat serta tradisi turun temurun yang mengandung unsur adat. Entah khitanan pada anak perempuan diperbolehkan atau tidak, itu semua kembali kepada diri kita masing-masing yang kita sandarkan pada Allah Swt.  (wallahualam).

FOTO-FOTO

20151223_102356

Mappetudang werre’

20151223_102009

Si anak diarahkan untuk meniup lilin

20151223_101841

Si anak dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat Shahadat

20151223_101539

Keluarga Pa Aji

Penulis : Sukma Arsyad

About the author

HS Masagenae

Pecinta sejarah budaya lokal.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.