You are here: Home » Budaya » RIRUMPA’NA I LATANETE (PENYERBUAN I LATANETE)

RIRUMPA’NA I LATANETE (PENYERBUAN I LATANETE)

RIRUMPA’NA I LATANETE (PENYERBUAN I LATANETE)
Andi Oddang To Sessungriu

A. Kilat Petir Pada Siang Hari

Tersebutlah We Duppasugi, seorang kepercayaan Istana LatanEtE Kedatuan Cinna bermaksud mandi-mandi di sungai, tidak jauh dari tempat armada-aramada dari Luwu. Ia ditemani oleh dayang-dayang istana. Sejak beberapa lama, armada-armada dari Luwu itu sejak beberapa lama telah merapat di pelabuhan sungai itu. Dua diantaranya yang terbesar, konon bernama WElenrEngngE dan Wakkatana. Rombongan orang-orang dari Kerajaan Luwu itu dipimpin oleh Sawerigading Opunna Ware’, Pangeran Mahkota Kerajaan Luwu yang agung. Bahkan telah sama diketahuinya pula, bahwa pangeran Luwu itu mengajukan pinangan kepada La Sattumpugi Sang Maharaja Cinna, demi mempersunting puteri bungsu beliau yang cantik jelita, yakni : We Cudai’. Lebih dari itu, mahar Sang Pangeran Luwu yang terdiri dari harta benda telah diantar ke Istana LatanEtE, dimana Sang Maharaja Cinna bersemayam. Benda-benda berharga yang terdiri dari emas, permata, sutera dan sahaya yang dipersembahkan delegasi dari Luwu begitu berlimpah, sehingga membutuhkan waktu selama 3 bulan untuk mengangkutnya dari armada ke Istana LatanEtE.

Namun sore ini, alangkah terkejutnya We Duppasugi dan para dayang, ketika mendapati seorang lelaki sedang duduk dibawah dibawah sebatang pohon MajjEmpangi, tidak jauh dari armada WElenrEngngE bersandar. Lelaki itu mengenakan busana mewah serta dikelilingi para sahaya yang memakai gelang emas dan menyematkan keris emas. Bukan busana lelaki itu yang membuat mereka terperanjat. Melainkan paras dan bentuk tubuhnya yang mengerikan. Lelaki itu berparas garang dengan bulu kumis carut marut dan dadanya serta hampir keseluruhan tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu kasar yang panjang lagi tebal. Rambutnya yang gimbal, panjang terurai hampir menutupi wajahnya yang brewok pula. Kedua matanya bersinar kemerahan, berkilat tajam dan liar. Demikian pula dengan para sahaya yang mengelilinginya, tidak jauh berbeda keadaannya. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa aneh dengan nada keras terputus-putus, menyerupai burung gagak bersahut-sahutan.
“Celaka, pastilah dia ini yang bernama Sawerigading itu. Ternyata dia tidak lebih dari seorang suku liar belaka. Pastilah mereka ini sejenis suku I Mettang atau I MEnrekoli yang pemakan ular dan terkenal biadab itu..”, pikir I Duppasugi. Mereka tidak jadi memenuhi hajatnya untuk mandi dipinggir sungai, tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu, segera kembali ke Istana.

Kejadian sore itu segera menjadi isu diantara para dayang Istana. Gossip hangat yang diperbincangkan dengan suara bisik-bisik diantara mereka. Hingga pada suatu ketika, gossip itu didengar pula oleh We Cudai’, calon pengantin Sawerigading. Dapat dibayangkan, betapa terperanjatnya demi mendengar khabar jika calon suaminya yang dikiranya adalah seorang lelaki tampan tiada banding itu ternyata sesungguhnya hanyalah seorang lelaki kasar dari suku biadab ?!.

“Wahai, sungguh celaka nasibku !”, keluhnya seraya menghempaskan dirinya dipembaringan dalam biliknya. Ia mengurung diri selama 3 hari 3 malam. Tiada lain yang dilakukannya, hanyalah menangis dan meratap. Ia menolak suguhan makan dan minum selama itu. Badannya kurus dan wajahnya pucat pasi layaknya bulan rembulan tersaput awan. Inang pengasuh dan dayang-dayangnya panik seketika itu. Namun siapa pula yang tidak resah memikirkan akan diperisteri seorang lelaki bertampan mengerikan dari kalangan suku tidak beradab ?.

Terlebih pula dengan We Tenriabang, ibunda We Cudai. Beliau dan suaminya menyambangi puteri bungsu kesayangannya dibiliknya. Mereka mendapati puterinya dikelilingi para inang dan dayang yang membujuk sambil meratap. Demi mengetahui kunjungan Sang Maharaja dan Permaisuri, segenap inang dan dayang berbalik menyembah. Sementara itu We Cudai tidak bergeming, tetap memandang lurus pada dinding dihadapannya dengan tatapan mata kosong. Suatu gambaran sikap putus asa yang mencapai puncaknya.

Bukan main paniknya We Tenriabang menyaksikan sikap puterinya yang biasanya cerah ceria selama ini. Nurani seorang ibu manapun, pastilah terguncang jika menemui keadaan anaknya sedemikian menyedihkan seperti ini. “Kurusumange’mu 1 anakku, wahai rembulan LatanEtE. Apa gerangan yang menimpamu sehingga seperti ini ?”, tanyanya dengan deraian air mata.

“Katakanlah kepada kami, duhai puteriku tersayang. Janganlah ananda menyembunyikan hasrat dan kehendak kepada kedua orang tuamu ini. Ayahanda berjanji untuk memenuhinya, sekalipun itu harus mengeringkan 7 lautan atau meratakan 7 gunung. Tiada yang kami tidak lakukan, asalkan itu demi kebahagiaanmu, anakku.”, timpal La Sattungpugi pula.
Demi mendengar sabda ayah dan ibunya, We Cudai menutupi wajahnya dengan kedua tangan seraya menangis sedih. Serasa terbang segala semangat hidup kedua orang tua yang mencinta itu mendengar tangis buah hatinya. Pada sela-sela tangis itu, terdengarlah jeritan hati melalui suara merdu yang mendayu-dayu bagai kisikan angin semilir pada rumpun dedaunan bambu gading.

“Tuanku, tiada perasaan apa-apa yang dapat ananda lindungkan dibalik kasih sayang duli paduka berdua. Sesungguhnya ananda bahkan tidak mampu membayangkan, apalagi menjalaninya.. ooh.. nasibku sungguh buruk.”

“Duhai, anakku sayang. Katakanlah itu, apa yang meresahkan batinmu ?”, desak We Tenriabang seraya merangkul puterinya. Lembut jemarinya membelai rambut puterinya.

“..sungguh, ananda tidak mau menjadi milik orang Luwu itu !”, ujar We Cudai disela isak tangisnya. Bukan main terkejutnya kedua Raja dan Ratu itu mendengar ucapan puterinya. Keduanya terpana, sejenak diam seribu basa tak tahu dengan lidah kelu bagai terkunci. Sungguh hal yang mengejutkan, lebih dari ketika pertama menyaksikan keadaan puterinya yang layu itu.

“Demi To Patoto’E, apa maksud perkataanmu itu, anakku ?!”, akhirnya La Sattungpugi dapat menguasai dirinya terlebih dahulu.

“Ananda tidak mau sepembaringan dengan orang Bajo atau satu sarung dengan orang yang bukan se-negeriku, seperti orang Mettang atau MEnrokoli yang biadab itu, ayahanda. Mereka adalah suku liar yang badannya dipenuhi bulu menjijikkan serta berkumis tebal bagai membakar seluruh badannya. Apabila berbicara, ucapannya terputus-putus, tak jelas apa yang dikatakannya. Mereka mengenakan pakaian yang tidak ditenun atau dijahit dan pemakan ular. Tidak jelas dari mana asal usulnya dan entah dimana tanah air tumpah darahnya.. Aku tidak mau, ayah !”.

“Anakku, ..siapa sesungguhnya yang kau maksudkan suku liar itu ?!”, timpal We Tenriabang.

“Siapa lagi kalau buka Si Sawerigading itu, Ibunda ?”, sahutnya balik menanya.

“Ah, itu hal yang mustahil, anakku. Pangeran Sawerigading tidaklah seperti yang ananda katakan itu. Emang siapa yang mengatakannya demikian ?!”, sergah We Tenriabang tidak percaya.

“Tidak penting siapa yang mengatakan itu, Bunda. Namun yang sesungguhnya pastilah seperti itu adanya. Pokoknya ananda menolak dijodohkan dengan Sawerigading, Pangeran pemakan ular dari suku liar itu !”

“Duh, anakku. Tidakkah kau tahu jika Pangeran Sawerigading itu adalah putera Sri Paduka PajungngE ri Luwu ?. Beliau adalah cucu langsung ManurungngE ri Ussu’, turunan langsung Datu DEwata Patoto’E yang bertahta di Botinglangi dan pula dari DEwata PunnaEliung yang bertahta di Matasolo’na Uriliung, anakku. Bagaimana mungkin berparas mengerikan sebagaimana yang ananda dengar itu ?”, sanggah La Sattungpugi.

“Apakah ayahanda pernah menyaksikan sendiri parasnya ?”

“Belum juga sih, anakku. Tapi ayahanda yakin jika beliau tidaklah seperti sebagaimana yang dikhabarkan oleh gossip tidak bertanggungjawab itu.”.

“Kalau belum pernah melihat sendiri orangnya, bagaimana mungkin ayahanda yakin jika issu itu tidak benar ?!”, sergah We Cudai’ dengan nada sedikit meninggi.

“Pokoknya, apapun yang terjadi, ananda menolak dijodohkan dengan Pangeran buruk rupa yang mengerikan itu. Tidak peduli turunan Datu DEwata dari mana, pokoknya saya tidak mau !. Nanda lebih memilih mati daripada dinikahkan dengan Sawerigading ! Saya tidak sudi !. Dasar turunan Dewa yang tidak tahu diri, ccuuiiiih !”, sambungnya dengan sinis seraya meludah jijik. Seketika itu, kilat menyambar diluar istana, nampak terang dari balik jendela, disusul dentuman Guntur membahana, mengguncang dan menggetarkan AlEcinna, Ibukota Kerajaan Cinna.
“Cudai ! Jaga sikapmu ! Lancang sekali ucapanmu itu !”, bentak We Tenriabang terpana, mendengar kelancangan puterinya yang menghina turunan Datu DEwata di khayangan Botinglangi. Semua yang hadir dalam ruangan itu sama memaklumi jika ledakan Guntur barusan adalah teguran dari Botinglangi sendiri.

“Wahai dikau Yang Dipertuan di Botinglangi, ampunilah kebodohan hambamu yang tak melihat kebesaranmu !”, seru We Tenriabang, berlutut menghaturkan sembah ke Botinglangi, seraya menoleh ke We Cudai, “Ayo, haturkan permohonan ampun kehadapan Datu DEwata !”. Namun puterinya tidak bergeming di tempatnya semula. Ia tetap bersiteguh dengan kehendaknya, yakni membatalkan perjodohannya dengan Sawerigading, meskipun dikatakan oleh kedua orang tuanya jika pangeran itu adalah turunan lansung Datu DEwata Patoto’E.

“Adinda Ida Cudai’, sudahlah. Baiknya jika masalah ini kita rundingkan dulu dengan segenap menteri dan para Raja bawahan dulu.”, kata La Sattungpugi menengahi ketegangan antara isteri dan anaknya tersebut.
“Ingat, Ayahanda. Apapun hasil perundingan itu, pokoknya saya tetap menolak dinikahkan dengan Sawerigading. Ananda kira jika ayahanda sudah menjanjikan untuk mengeringkan 7 lautan dan meratakan 7 gunung demi kebahagiaan ananda. Maka cukup penuhilah keinginan ananda sekali ini !”, tukas We Cudai. Ayah ibunya tidak ada yang menjawab penegasan tersebut. Keduanya berlalu dari bilik itu, diiringi sujud sembah para Inang dan dayang.

B. Keputusan Berat

Jajareng penuh sesak pada malam hari itu. Suatu rapat mendadak diadakan oleh Sang Maharaja Cinna yang didampingi oleh permaisurinya. Mereka yang hadir adalah terdiri dari para menteri dan Raja-Raja Bawahan Kedatuan Cinna yang sesungguhnya adalah sebagian dari putera puteri, menantu, kemenakan dan kerabat La Sattungpugi dan We Tenriabang pula. Bahkan We Cudai’ sendiri telah hadir pula. Semuanya terhenyak mendengar tingkah We Cudai’ yang menolak dinikahkan dengan Sawerigading.

“TabE’ Maraja, Tuanku. Kita adalah bangsa yang beradab. Bangsa beradab itu senantiasa memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai MANUSIA. Natoriyaseng tau, nasaba’ molaitta gau’ na nrupaitta janci. Bahwa kita pantas disebut sebagai manusia dinilai dari bagaimana berprilaku dan memenuhi perjanjian. Sehubungan dengan ini, kita telah menerima pinangan para orang Wakka (perahu) itu, bahkan maharnyapun telah diterima dengan baik. Maka hal itu dapat dikategorikan sebagai suatu perjanjian. Olehnya itu, Tuanku.. pada hemat hamba, alangkah tidak terpujinya jikalau perjanjian pernikahan ini dibatalkan sepihak setelah menjalani prosesi sejauh ini.”, kata Jemmu ri Cinna, salah seorang Panglima Kedatuan Cinna dengan terlebihdahulu menghaturkan sembahnya.

“Tapi ketahui pulalah olehmu, Jemmu. Sayapun telah menjanjikan sesuatu kepada puteriku Cudai’ untuk memenuhi segala permintaannya, walaupun itu haruslah mengeringkan 7 lautan dan meratakan 7 gunung..”, jawab La Sattungpugi dengan nada berat hati.

“Ampuni hamba yang lancang menyanggah, Tuanku mustika tunggal Kedatuan Cina, pertuanan hamba. Bahwa janji yang telah diucapkan oleh tuanku kepada ananda puteri, tiada lain hanyalah janji seorang ayah kepada anaknya. Sedangkan perjanjian yang telah paduka buat dengan orang Luwu itu adalah perjanjian antar Kerajaan. Maka tentu saja, perjanjian antar Kerajaan dalam hal ini jauh lebih berat nilainya daripada perjanjian seorang ayah kepada anaknya. TabE, ampuni kelancangan hamba ini, Tuanku.”

“Namun bagaimana halnya kepribadian seorang Raja selaku ayah yang melanggar janjinya terhadap anaknya sendiri, apakah bisa diharapkan memenuhi kehormatan seorang Raja bagi negerinya ? Jikalau bahkan melanggar harkat janji terhadap anaknya, bagaimana mampu dipohonkan kehormatan bagi rakyat yang dipimpinnya ?”, tukas La Sattungpugi. Maka terdiamlah Jemmu ri Cina, seraya menimbang makna ucapan Rajanya yang diakuinya ada benarnya pula.

Penulis : Andi Oddang To Sessungriu
Copy By : https://www.facebook.com/sessungriu/posts/324171434422558:0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *