Word up cheats Word Trek answers Ant Word Trek answers Snake Word Trek answers Horse Word Trek answers Dog Word Trek answers Milo Word Trek answers Jupiter
RESUME HASIL TALK SHOW JEJAK OPU LIMA DALAM KAJIAN INTERTEKSTUAL MELAYU BUGIS - SEMPUGI
Sejarah

RESUME HASIL TALK SHOW JEJAK OPU LIMA DALAM KAJIAN INTERTEKSTUAL MELAYU BUGIS

RESUME HASIL TALK SHOW JEJAK OPU LIMA DALAM KAJIAN INTERTEKSTUAL MELAYU BUGIS (Makassar, 7 Desember 2015)
Oleh: Syamsul Hilal Ramsah (Moderator acara)

12290441_10207005964820045_654053923_o

Resume ini merupakan hasil dari Uji Kelayakan Akademis Penelusuran Jejak Opu Lima dalam Kajian Intertekstual Tuhfat Alnafis/salasia Melayu Bugis dan Lontara’ di SulSel oleh Pallontarak Andi Oddang To Sessungriu Opu Matoa Cenrana KeDatuan Luwu sebagai penulis (dengan Tulisan sebanyak 103 halaman) yang di Uji oleh Pakar Penanggap, Prof. Dr. Andi Nurhayati Rahman M.Hum. dan Dr. Muhlis Hadrawi, S.sos.M.Hum.

silsilah1

Pembahasan soal leluhur Opu Lima sudah berlangsung selama 38 tahun lamanya terhitung sejak Prof.Dr.H. Andi Zainal Abidin berkunjung ke Pahang Malaysia. Pembahasan yang berlangsung lama ini tidak menemukan titik terang tentang siapa sebenarnya leluhur Opu Lima yang kelak menjadi leluhur Raja- Raja di Semenanjung Melayu. Kajian soal ini sudah dilakukan pada lontarak-lontarak di tana Bugis seperti Lontarak Wajo, Soppeng, Bone, Tanete, Gowa, dsb, tapi tetap mengalami kebuntuan. Satu kelemahan yang dijumpai dari kajian lontarak tersebut adalah tidak melibatkannya Lontarak Luwu sebagai bahan Kajian. Bahkan peneliti dan kerabat kerajaan dari Johor dan Selangor pernah mengunjungi Istana Kedatuan Luwu, tapi tak membawa hasil apa-apa. Hal ini disebabkan karena Lontarak Luwu masih begitu disakralkan, sehingga tidak sembarang orang boleh membukanya.

Oleh karena itulah Sri Paduka YM TopoapataE Datu Luwu XL H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau memberikan Mandat kepada Opu Matoa Cenrana KeDatuan Luwu Andi Oddang Tosessungriu yang juga adalah salah seorang Pallontarak yang berbakat untuk mengkaji ulang perihal leluhur Opu Lima yang menjadi Polemik tentang siapa sebenarnya leluhur mereka di tana Luwu.

Banyak kajian dikemudian hari yang memunculkan beragam pendapat tentang siapa Leluhur Opu Lima, kajian tersebut di fokuskan pada nama Lamaddusalat yang menjadi ayah dari La Tenriburang Opu Daeng ri Laga. Karena retasan itu berhenti pada nama Lamaddusalat yang merupakan Cucu Datu Luwu yang mula-mula menerima Islam, cucu Datu Soppeng, dan Betteng Pola, maka memunculkan banyak spekulasi tentang siapa yang dimaksud dengan Lamaddusalat? Pembahasan kajian ini salah satunya adalah menguraikan dan mengkritisi pendapat-pendapat para ahli dan pendapat sejarahwan yang lain tentang tokoh Lamaddusalat .

Sebelum masuk pada pembahasan lebih lanjut, diperlukan uraian Silsilah Melayu dan Bugis (Arena Wati, 1973), sebagai berikut :
“Adalah namanya raja itu Siti Malangkai’, yaitu raja perempuan jadi raja di Tanah Bugis Seyilang. Adapun Siti Malangkai’ itu beranakkan Datu Palangi’e; dan ia itu beranakkan Patoto’; Dan ia itu beranakkan Batara Guru; Dan ia itu beranakkan Batara Lato’; Dan ia itu beranakkan Sawerigading; Dan ia itu beranakkan La Galigo ; Dan ia itu beranakkan; Tata’; Dan ia itu beranakkan; Sawong ri Wara’ La Talakka; Dan ia itu beranakkan Siyajangngi Korana; Dan ia itu beranakkan Batara ri Toja Mallajangngi Lopi Bali; dan ia itu beranakkan To Tendri Ala’ Mallajangngi Olara’na; Dan ia itu beranakkan La Rimappa’ Mattindro ri Wara’; Dan ia itu beranakkan La Sasong Rewo’ Mattindro ri Larapong; Dan ia itu beranakkan To Wangkaba’ Mattindro ri Malangkai’; Dan ia itu beranakkan La Pa’nyewi Ma’lopi ri Alla’e; Dan ia itu beranakkan La Pa’dolang Mallajangngi ri Wara’ Lalanguge; Dan ia itu beranakkan Sasong Rewo’ Nan no’ ri Kiritiwi; Dan ia itu beranakkan To Kasawo’ Mattindro ri Yoso’; Dan ia itu beranakkan To Wangkaha’ Matindro ri Mallangkik; Dan ia itu beranakkan Sasong Rewo Mattindro ri Larapong; Dan ia itu beranakkan To Pamadang Mattindro ri Nappa’; Dan ia itu beranakkan Siti ri Wara Mattindro ri Cabateka’e; Dan ia itu beranakkan La Wawung Langi’ Mattindro ri Langkananna; Dan ia itu beranakkan Ma Akkaramappa’ Mattindro ri Tampatka’e; Dan ia itu beranakkan La Mappipolong lappa’ ri Mata bassi; Dan ia itu beranakkan To Tammo’e ri Pasi’ Tonno’ Solo’ Cina; Dan ia itu beranakkan To ri Bosongnge Silajangngi ri Langkananna; Dan ia itu beranakkan Tendrileong mattinro ri Kodonna; Dan ia itu beranakkan Tenri Ampa mattinro ri Bulu’ Suwi’ Mallajangngi ri Kalakanna; Dan ia itu beranakkan Kori’ Langi Mattinro ri Cendana; Dan ia itu beranakkan La Tendri Ampa; Dan ia itu beranakkan Mappaseleng Matindro ri Salo’kanna; Dan ia itu beranakkan La Tuanda’e Matindro ri Kannana; Dan ia itu beranakkan La Tendri Nyuppa; Dan ia itu beranakkan La Darreng Tello’ Tenreng; Dan ia itu beranakkan La Maddusalat. Maka ia itu yang mula-mula masuk Islam, yaitu cucunya Datu ri Luwu; Dan cucunya juga Datu ri Soppeng; Dan cucunya juga Arung Bateteng Pola; Dan La Maddusalat itu beranakkan Opu Tendri Borong Daeng Rilaka; Ia beranakkan lima orang laki-laki seibu dan anak yang pertama namanya Daeng Parani; Dan anak yang kedua namanya Daeng Manambung; Dan anaknya yang ketiga namanya Daeng Marewa; Dan anaknya yang keempat namanya Daeng Cella’; Dan anaknya yang kelima namanya Daeng Kamase adanya.” (Sebagaimana dikutip pada Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, M.Pd ; MIGRASI dan Orang Bugis, Ombak – Yogyakarta, 2004 : Hal. 98-100).

A. Siapa Lamaddusalt yang dimaksud dalam Tuhfat Alnafis dan salasiah melayu bugis?

Ada empat pendapat Sejarahwan dan pemerhati tentang Lamaddusalat/Lamaddusila yang selama ini berkembang yang terekam dalam catatan penulis adalah sebagai berikut:

1. Lamaddusalat yang dimaksud adalah La Maddusila To Appangewa Petta Matinroe ri Dusung Datu Tanete XII (putera Datu/Pajung Luwu We Tenri Leleang dengan La Mallarangeng Datu Lompulle’). Pendapat ini dikemukakan oleh Dr. H. Wahyuddin Hamid, MS (2005;28),

2. Lamaddusalat adalah Petta MatinroE ri Polka Datu Luwu ke- XX. Asumsi ini adalah hasil diskusi antara penulis dengan Ir. Andi Baso Lolo Opu Matoa WagE (Anggota Adat 12 dan Adat 9 Kedatuan Luwu) serta saudara Muhammad Faisal di Sorowako, Luwu Timur,

3. Lamaddusalat adalah putera La Pakkokoe Arung Timurung Maddanrengnge ri Bone . Dugaan ini dimunculkan oleh Bp. Mohd. Syahrir di Riau melalui media social Facebook beberapa waktu yang lalu,

4. Lamaddusalat adalah La Settiaraja Daeng Massuro Sultan Muhammad Ma’uwduddin Datu/Pajung Luwu XIX/XXI Yang melahirkan Opu Tenri Borong dari permaisurinya, yakni : Opu Datu Petta MatinroE ri LawElareng. Pendapat ini dikemukakan oleh Prof. Mr. DR. H. Andi Zainal Abidin dalam suatu catatan silsilah (tanpa tanggal dan tahun ; koleksi penulis) yang ditulis tangan oleh beliau sendiri.

B. Analisa Kritis terhadap keempat pendapat tersebut diatas sebagai berikut
1. Apakah benar yang dimaksud adalah Lamaddusila Karaeng Tanete, Putra We Tenrileleang?
Mencermati anggapan bahwa Lamdusalat (ayah Upu Tandri Burang Daing ri Lakka) adalah putera Datu Luwu We Tenri Leleang kiranya sangat meragukan. Bahwa Sri Baginda Ratu We Tenri Leleang “Sultana Aisyah Yahyiddin” Datu Tanete Petta Matinroe ri Tengngana Soreang Datu/Pajung Luwu XXIV/XXVI menjadi Datu Luwu pada tahun 1748-1778 dan wafat pada tahun 1785. Sementara salah seorang “cicitnya” yakni Opu Daeng Marewa Yang Dipertuan Muda Riau I , menjadi Yang dipertuan Muda Riau I pada tahun 1722 dan wafat pada tahun 1729. Maka bagaimana mungkin seorang “cicit langsung” wafat 56 tahun lebih dulu dari “nenek buyutnya” ?. Karena itulah penulis menarik kesimpulan bahwa Lamaddusalat yang dimaksud bukanlah Putera dari We Tenrileleang Datu/Pajung Luwu.

silsilah2

2. Apakah Lamaddusalat adalah Petta MatinroE ri Polka Datu Luwu ke- XX ?

Karena tokoh ini, nama lahir dan sejarah kepergiannya masih misteri setelah dikudetanya dari tahta Luwu oleh La Settiaraja Petta MatinroE ri Tompottikka, maka memunculkan asumsi bahwa tokoh inilah yang dimaksud sebagai Lamaddusalat.

Setelah Penulis melakukan kajian di Lontarak Panguruseng luwu maka nama tokoh ini dijumpai nama aslinya sebagai La Mappaiyyo Opu Daeng Mattuju Pawelaiye ri Luminda. Kepastian bahwa La Mappaiyyo adalah MatinroE ri polka itu sendiri dipertegas oleh referensi belanda dengan penyebutan nama yang hanya mencantumkan nama gelar sebagai ”Daeng Mattuju”. Hal ini juga diuraikan dan disebutkan nama gelarnya sebagai “Daeng Mattuju” oleh Leonard Andaya dalam buku Warisan Arung Palakka. Pemberitaan dari catatan VoC yang ditemukan pada arsip Kerajaan Belanda mengabarkan tentang pengambil alihan kekuasaan di Kedatuan Luwu pada masa itu menegaskan tentang siapa matinroE ri Polka. Bahwa Majelis Adat Tana Luwu memecat penguasa Tana Luwu DaEng Massuro dan mengangkat Daeng Mattuju menggantikannya. Daeng Massuro berangkat menuju Duri dan kemudian ke Bone. Dari Bone ia menyurat kepada Arung Palakka dengan memohon perlindungan dan keputusan yang dapat membawa kelegaan bagi Arung Palakka dan Kompeni atas peristiwa di Luwu (KA.1191b:661v-662r ; dikutip dari Mattulada ; 1998).

Dari catatan belanda kepergian Daeng Mattuju ini diuraikan sangat lengkap dimana Daeng Mattuju dan saudara-saudaranya berpetualang dari rimba ke rimba berlangsung cukup lama. Namun pada 7 Agustus 1677, mereka tertangkap lalu selanjutnya ditawan menuju ke Port Rotterdam sebagai tahanan politik (Ligtvoet.1877:144 ; dikutip dari Abidin ; 1994). Selanjutnya catatan Ligtvoet (loc.cit) memberitakan Ex Datu Luwu ini yang dibawa ke Batavia dan dipenjarakan disana. Namun kemudian, beliau berhasil meloloskan diri dari penjara lalu bergabung dengan Sultan Ageng Tirtayasa yang juga adalah eks Sultan Banten setelah dikudeta oleh Sultan Haji (Abu Nazar Abdul Qahhar), puteranya sendiri, dan berjuang bersama Syech Yusuf Al Makassari. Kemudian tertangkap lagi dan diasingkan ke Cape Town, lebih dahulu dari Syech Yusuf. Maka “Polka” yang dimaksud itu adalah kemungkinan adalah daerah Cape Town itu sendiri.

Dari uraian tersebut di atas, maka tidak mungkin seorang tokoh yang sejarahnya tercatat lengkap dalam catatan belanda dengan sejarah mendunia tidak terekam oleh anak cucunya yang menjadi penulis Tuhfat Alnafis. Apalagi disebutkan dalam tuhfat memiliki kedekatan dengan ArumponE Penguasa Bontoala. Dimana diketahui Arung Palakka punya peran dalam melengserkan MatinroE ri Polka. Maka tidak mungkin anak dan cucu langsungnya memiliki kedekatan begitu cepat secara psikologis dengan penguasa Bontoala. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa MatinroE ri Polka bukanlah Lamaddusalat yang dimaksud.

silsilah3

3. Apakah Lamaddusalat adalah putera La Pakkokoe Arung Timurung Maddanrengnge ri Bone?

Berikut uraian Bpk. Moh. Syahrir: “Apakah ada hubungan Daeng Lima bersaudara dengan Wajo? Perhatikan silsilah : — La Pakalongi To Allinrung, Arung Matoa Wajo ke 15-17 (1628-1638) kawin dengan We Jai Arung Sakkoli dan lahirlah We Hadija Ida Saleng. We Hadijah kawin dengan La Maddaremmeng, Raja Bone, maka lahirlah La Pakkokoe, Ranreng Tua Wajo. — La Pakokkoe kawin dengan We Sunrawa binti Daeng Makkulle bin Pati Pasaung, Pajung Luwu ke-17, maka lahirlah : 1. Daeng Pabbisieng (Daeng Biasa), Arung Angke di Batavia. 2. Daeng Rilekke/ Daeng Rilaga atau La Maddussila Punggawa Pallopie, yaitu ayah dari Opu Daeng Lima bersaudara “ .

Sekiranya data silsilah diatas dicocokkan dengan perihal kisah La Tendri Burang Opu Daing Rilakka beserta kelima puteranya sebelum melakukan pelayaran perantauan ke Tanah Melayu, maka didapatilah beberapa kesesuaian. Bahwa beliau melakukan perjalanan ke Pammana (Wajo) lalu ke Bone untuk menemui saudaranya yang adalah Sribaginda Raja Bone kala itu, kiranya penelusuran ini pada akhirnya menemukan jawabannya karena silsilah diatas menunjukkan kalau Daeng Rilekke/Daeng Rilaga adalah bersaudara “seayah” dengan Puetta La Patau Matanna Tikka Arumpone Petta Matinroe ri Naga Uleng. Kemudian pada silsilah garis ibu “Daeng Ri lekke” disebutkan sebagai cucu langsung Datu/Pajung Luwu Pati Pasaung, maka itupun merupakan jawaban yang meyakinkan sehingga “Daeng Rilekke” beserta kelima puteranya bergelar “OPU”, yakni gelar khas bangsawan asal Luwu. Begitupula dengan pencantuman “Daeng Pabbisieng” sebagai nama asli “Daeng Biasa” juga adalah suatu keterangan yang meyakinkan.

Terkait dengan keterangan diatas, penulis mencermati lebih jauh dengan meretas beberapa Lontara Panguriseng, utamanya yang berasal dari tiga Kerajaan terkait, yakni : Luwu, Bone dan Wajo, namun tidak ditemukan data yang serupa. Kemudian pada bagian akhir keterangan tersebut yang “menyamakan” Opu Daeng Rilakka’ adalah orang yang sama dengan La Maddusila (Lamdusalat), maka penulis meragukan keabsahan data tersebut. Karena silsilah melayu bugis membedakan keduanya dalam generasi yang berbeda. Dimana salasia melayu bugis menyebutkan bahwa Opu Daeng rilakka adalah putra dari Lamaddusalat.

Selain dari rangkaian sanggahan atas keterangan silsilah yang dikemukakan Bp. Mohd. Syahrir diatas, La Pakkokoe Arung Timurung yang merupakan seorang menteri di Kerajaan Wajo, yakni : Paddanreng Tuwa XVII. Sementara itu, Silsilah Melayu dan Bugis yang menguraikan perihal Lamdusalat menyebutkannya sebagai anak dari seorang menteri yang lainnya di Kerajaan Wajo, yaitu : Paddanreng Talotenreng. Sesungguhnya kedua jabatan menteri tersebut adalah sangat berbeda, bahkan pada beberapa era masa kedua rumpun penguasa Tana Wajo tersebut sering berseteru. Oleh karena itu penulis berkesimpulan bahwa putra La Pakkokoe Arung Timurung Maddanrengnge ri Bone, bukanlah Lamaddusalat yang dimaksud.

4. Apakah Lamaddusalat adalah La Settiaraja Daeng Massuro Sultan Muhammad Ma’uwduddin Datu/Pajung Luwu XIX/XXI ?

Keterangan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin diatas kiranya didasari asumsi keakraban perhubungan La Tenri Borong Opu Daeng Rilakka dengan “Raja Bone” yang menurutnya adalah diri “La Patau’ Matanna Tikka”. Perhubungan akrab itu mengingat bahwa Raja Bone ini adalah “saudara ipar” dari La Tenri Borong Opu Daeng Rilakka. Kemudian jika diuraikan bahwa ada “Arumpone” yang memiliki istana di Makassar, maka Raja Bone mana lagi yang memiliki “saoraja” (istana) di Makassar selain La Tenri Tatta Arung Palakka dan La Patau’ ?. Kiranya adalah hal mustahil seorang “Arumpone” (Raja Bone) sebelum era kedua tokoh tersebut memiliki Istana di wilayah pusat kekuasaan Kerajaan Gowa, yakni Makassar, mengingat bahwa sebelum era itu Kerajaan Bone adalah jajahan Kerajaan Gowa.

Selanjutnya pada catatan Guru Besar Sejarah Sulawesi Selatan ini menguraikan pula pernikahan La Tenri Borong Opu Daeng Rilakka dengan seorang “Datu Pammana” yang tidak disebut namanya. Bahwa sezaman dengan Arumpone La Patau, memang diketahui seorang Datu Pammana berjenis kelamin perempuan, yakni : We Tenripada Daeng Manessa Petta Mpungae (Datu Pammana VII). Beliau adalah puteri La Tenrisessu To Timo’e Petta Matinroe ri Lambengi (Datu Pammana VI) dengan permaisurinya, yakni : We Bannampebbe’ Arung Bulo. Naskah Lontara Silsilah Pammana kemudian menguraikan sulur galuh Datu Pammana ini yang menikah dengan La Tenrisenge’ To Esa’ Petta Matinroe ri Salassana (Datu Soppeng XVII ; 1666 – 1696), melahirkan : La Kareddu Arung Sekkanyili’.

Berdasarkan pendapat Prof. Mr. DR. H. Andi Zainal Abidin tersebut diatas, timbullah pertanyaan-pertanyaan, antara lain sebagai berikut :

1. Jika Lamdusalat yang dikatakan pada Tuhfat Al Nafis sebagai “Raja Bugis mula-mula memeluk Agama Islam”, mungkinkah beliau adalah diri seorang La Settiaraja Sultan Muhammad Ma’uwduddin yang sesungguhnya adalah generasi Islam ke-4 di Luwu ?,

2. Raja Bone La Patau Matanna Tikka adalah Arumpone XVI lahir pada tahun 1671 kemudian dinobatkan sebagai Raja Bone pada tahun 1696 dan wafat pada tanggal 16 September 1714 (7 Ramadhan 1126 H) dalam umur 43 tahun (Lontara Bilang, Gowa). Sementara itu tarikh wafatnya La Tenri Borong Opu Daeng Ri Lakka di Siantan tertulis 1670, maka bukankah itu berarti bahwa beliau wafat setahun sebelum La Patau dilahirkan ?,

3. Sekiranya dugaan beberapa sumber di Malaysia yang menyebutkan tahun wafat La Tenri Borong Opu Daeng Rilakka adalah 1715, maka jelaslah jika beliau segenerasi dengan Arumpone La Patau. Namun bagaimana mungkin tokoh “sepenting” ini tidak tercatatkan nama dan ikhwalnya pada Lontara Bone, Gowa, Luwu, Wajo dan Soppeng ?. padahal kita tahu Lontarak Bone dan Wajo adalah Lontarak yang paling detil menjelaskan sejarah berdiri dan berkembangnya kerajaannya, serta sangat cermat dengan penulisan silsilah, apalagi itu menyangkut tokoh penting di abad 17-18.

Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa La Settiaraja bukanlah Lamaddusalat yang dimaksud.

C. Menelusuri Tiga Tokoh Generasi di atas La Maddusalat

1. Siapakah La Darreng Tello Tenreng yang dimaksud dalam Tuhfat Al Nafis/Salasia Melayu Bugis yang melahirkan Lamaddusalat ?

Menurut penulis, ditafsirkan bahwa La Darreng Tello Tenreng itu adalah Paddanreng Talo Tenreng, yaitu suatu jabatan tertinggi yang dimiliki seorang bangsawan terhadap wilayah RANRENG TALOTENRENG di Wajo. Lalu siapakah Paddanreng Talotenreng di awal-awal masuknya Islam di Wajo? Lalu kenapa bisa melahirkan seorang cucu Datu Luwu dan Datu Soppeng? Lalu kenapa bisa Cucu Paddanreng Talotenreng ini bergelar Opu, dimana gelar ini adalah gelar khas bangsawan Luwu yang diabbatireng dari pihak ayah, atau kalau bukan dari ayah, beliau adalah Cucu langsung Datu Luwu, atau kalau bukan dari ayah dan cucu langsung, maka beliau adalah bangsawan berdarah Luwu yang sudah kembali menetap atau memiliki jabatan adat di Luwu?

2. Siapakah La Tendri Nyuppa yang dimaksud yang melahirkan Paddanreng Talotenreng?

Menurut penulis, ditafsirkan bahwa La Tendri Nyuppa ini bukanlah seorang laki-laki, meski di depan penamaannya dituliskan La. Berhubung semua tokoh tokoh di atasnya menggunakan La di depan namanya. Hal ini menunjukkan bahwa penulis Salasia Melayu Bugis ini, tidak mampu membedakan sapaan panggilan terhadap seorang laki-laki dan perempuan di tana Bugis. Jadi bisa jadi La Tendri Nyuppa itu adalah seorang perempuan.

3. Siapakah La Tuanda’e Matindro ri Kannana yang dimaksud yang melahirkan Tendri Nyuppa?

Menurut penulis, setelah melakukan kajian terhadap lontarak- lontarak panguruseng yang ada di Suawesi Selatan, tidak ada tokoh yang memiliki gelar Anumerta MatinroE ri Kannana kecuali La MungkacE To Uddamang MatinroE ri Kannana Arung Matowa Wajo. Karena gelar ini berkaitan dengan peristiwa sejarah dimana beliau La MungkacE To Uddamang meminta agar kelak disaat wafat dibakar bersama perisainya (Kannana). Maka bergelar anumerta MatinroE ri Kannana (yang wafat dan dibakar bersama perisainya). La MungkacE To Uddamang dalam Lontarak Wajo kerap ditulis dengan panggilan singkat yaitu To Udda. Jadi semakin mirip dengan penyebutan melayu yaitu La Tuanda’E.

Dari pertanyaan-pertanyaan terhadap ketiga tokoh diatas maka dijumpailah dalam penelusuran penulis di Lontarak Panguruseng Mallullungeng Luwu (transliterasi oleh Ir. Andi Baso Lolo Opu Matoa Wage KeDatuan Luwu, tahun 2008) dan Lontarak Akkarungeng Luwu, tentang perhubungan antara Luwu dan Wajo sebagai berikut:

I. La MungkacE To Uddamang Arung Ciung Petta MatinroE ri Kannana Arung Matoa Wajo XI, menikah dengan : We Tenri Empungeng Ida Majjetta Datu Baringeng (puteri Tolebba’E Datu Soppeng Rilau dengan We Singkerru’ Datu Baringeng), melahirkan :
1. La MappEdapi To Pawawoi (To PaEwai) Paddanreng Talo’tenrEng XIII,
2. La Betta To AppEboko,
3. We Makkarumpa.

II. We Makkarumpa, dinikahkan dengan : La Patiware’ DaEng Parabbung Datu Maremmu’E Sultan Muhammad Waliyul Muthoharuddin Petta MatinroE ri Ware’ Pattimang Datu/Pajung Luwu XVI, melahirkan :
1. Opu BalirantE (tidak disebut namanya ; peny.),
2. Opu Patunru’ (tidak disebut namanya ; peny.).

III. Opu BalirantE, menikah dengan : We Makkasau (puteri La MappEdapi To Pawawoi Paddanreng Talo’tenrEng XIII dengan We TenriEsa’ Tenri Palennareng Datu Baringeng), melahirkan : ……………. (tidak disebut namanya).

Kembali ke Generasi ke-II (anak-anak La MungkacE dan We Tenri Empungeng), …

II. La MappEdapi To Pawawoi (To PaEwai) Paddanreng Talo’tenrEng XIII, menikah dengan We TenriEsa’ Tenri Palennareng Datu Baringeng, melahirkan :
1. La Sigajang To BunnE Petta MatinroE ri Patila Arung Matoa Wajo XIX,
2. We Batari Toja Arung MEngE Paddanreng Talo’tenrEng XIV,
3. We Makkasau.
Atau bisa digambarkan dalam bagan silsilah dalam Picture A diatas.

Dari bagan silsilah di atas memberi gambaran tentang perhubungan silsilah antara Luwu dan Wajo di awal-awal Islam, yaitu ketika La Patiware’ DaEng Parabbung Datu Maremmu’E Sultan Muhammad Waliyul Muthoharuddin Petta MatinroE ri Ware’ Pattimang Datu/Pajung Luwu XVI menikahi We Makkarumpa ( Putri La MungkacE To Uddamang MatinroE ri Kannana) yang kemudian melahirkan Opu BalirantE dan Opu Patunru Luwu. Nama We Makkarumpa (di Lontarak Akkarungeng Luwu) di lontarak lain disebutkan juga sebagai We Tenri Jekka (di Lontarak Panguruseng Mallullungeng Luwu). Peristiwa pernikahan ini terjadi jauh sebelum Islam Masuk, dimana diketahui bahwa Istri paling Muda La Patiware Daeng Parabbung adalah Karaeng ri Balla bugisi yang dinikahinya juga sebelum Islam masuk. Dan terdapat empat Istri Pada dari Petta MatinroE ri Ware ini, sebagai berikut:

1. We Tenri Waja Datu Sailong Opu Datu ri Luwu (Permaisuri) melahirkan:
La Sumangerukka Patimpa’saung Daeng Mangngawing To AppanangE Petta MatinroE ri Malangke Sultan Abdullah Muhyiddin Datu/Pajung Luwu XVII dan dua saudari perempuannya lagi
2. We Messaki SipeppaE melahirkan:
Opu Mincara Burau

3. We Tenri Jekka (We Makkarumpa) melahirkan:
Opu Balirante dan Opu Patunru Luwu era Datu Luwu Patimpa’Saung Petta MatinroE ri Malangke.
Nama We Tenri Jekka inilah yang menurut penulis adalah Tendri Nyuppa itu sendiri.

4. Karaeng ri Balla Bugisi melahirkan:
We Taddampali Somba BainEa dan Patiaraja Petta MatinroE ri Somba Opu.

Menurut penulis, yang dimaksud dengan We Tenrijekka (We Makkarumpa) adalah Tendri Nyuppa yang ditulis dalam Salasia melayu bugis yang merupakan putri dari La Tuanda’e Matindro ri Kannana (La MungkacE To Uddamang MatinroE ri Kannana). We Tenri Jekka inilah yang melahirkan Paddanreng Talotenreng. Dan Paddanreng Talotenreng itu sendiri adalah Opu BalirantE Luwu yang kelak menjadi Paddanreng Talotenreng Di Wajo di Era La Sigajang To Bunne. Hal ini dipertegas dengan dinikahkannya Opu Balirante dengan We Makkasau (Putri dari Lamappedapi To Paewai dengan We TenriEsa’ Tenri Palennareng Datu Baringeng), yang juga merupakan saudara kandung dari La Sigajang To Bunne.

D. BAGAIMANA BISA SEORANG OPU BALIRANTE LUWU DAPAT MENJADI PADDANRENG TALO’TENRENG ?

Opu Balirante adalah jabatan mentri dalam struktur KeDatuan Luwu yang bertugas mengurusi urusan ekonomi dan kesejahteraan. Dalam lontarak panguruseng mallullungeng Luwu tidak disebutkan nama lahir dari Opu BalirantE ini. Sebagaimana pertanyaan diatas adalah bagaimana bisa Opu Balirante Putra dari Datu/Pajung Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung Petta MatinroE ri Ware’ dapat menjadi Paddanreng Talo’tenreng. Sebagaimana uraian diatas disebutkan bahwa ibu dari Opu Balirante ini adalah We Tenri Jekka (We Makkarumpa) putri dari La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kannana. La Mungkace To Uddamang adalah Putra dari seorang Paddanreng Talo’tenreng yang bernama La Cella’ Ulu Paddanreng Talo’tenreng VIII dari pernikahannya dengan We CarEpau (Putri dari La Taddampare’ Puang ri Maggalattung dengan We Tessioja ana’na raja marellang maddika Sangngalla). Dapat diuraikan dengan bagan silsilah B diatas.

Dari bagan silsilah di atas tergambar bahwa MatinroE ri Kannana adalah trah dari klan Talo’tenreng, meski jabatan Paddanreng Talo’tenreng dimasanya jatuh ke tangan saudaranya yang bernama La Pattikkeng To Paraoi Paddanreng Talo’tenreng IX. Hal ini disebabkan karena beliau sendiri pada masa itu menjadi Arung Matowa Wajo XI. Akan tetapi jabatan Paddanreng Talo’tenreng ini kembali diduduki oleh Putra La MungkacE To Uddamang MatinroE ri kannana yaitu La Mappedapi To Paewai Paddanreng Talo’tenreng. Sepertinya pada masa ini terjadi persaingan antara klan La MungkacE To Uddamang dengan La Pattikkeng To Paraoi untuk menduduki Jabatan sebagai Paddanreng Talo’tenreng. Karena jabatan ini harusnya menurun ke anak dari La Pattikkeng To Paraoi. Tapi kenyataannya Jabatan ini berpindah ke klan La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kannana. Hal inilah yang menyebabkan sehingga setelah kematian La Mappedapi To Paewai, Jabatan Paddanreng Talo’tenreng ini ingin tetap dipertahankan diduduki oleh Klan La MungkacE To Uddamang matinroE ri Kannana. Terbukti di generasi selanjutnya jabatan Paddanreng Talotenreng ini tetap bertahan dalam posisi klan La MungkacE To Uddamang.

Menurut penulis, masa paling rawan untuk berpindahnya jabatan ini ke klan La Pattikkeng To Paraoi adalah saat wafatnya La Mappedapi To PaEwai. Hal ini disebabkan karena pewaris jabatan Paddanreng Talo’tenreng yaitu La Sigajang To Bunne terpilih menjadi Arung Matowa Wajo. Maka secara otomatis tidak bisa menjadi Paddanreng Talo’tenreng, dengan demikian Jabatan ini menjadi kosong. Sementara La sigajang To Bunne memiliki dua orang saudara perempuan lagi yaitu We Makkasau dan Batari Toja. We Makkasau pada masa itu telah menjadi istri dari Opu BalirantE dan kemungkinan sudah memiliki putra yang sudah dewasa. Karena dalam Lontarak Pangnguruseng tidak disebutkan lagi keturunan dari Opu BalirantE dengan We Makkasau ini. Sementara saudari perempuan yang lain dari La Sigajang To Bunne yaitu Batari Toja diperkirakan pada masa itu masih berumur anak-anak. Sementara pada masa ini pula, adalah masa darurat perang, terbukti dikemudian hari terjadi peristiwa di Peneki, dimana pada saat itu meletus perang antara Wajo dan Bone akibat dari kebijakan penegekan Syariat Islam yang begitu bersemangat oleh La Maddaremmeng Arung Pone/Raja Bone, sampai-sampai melewati batas wilayahnya yaitu dengan membakar Peneki yang menjadi wilayah Wajo pada masa itu. Kondisi seperti yang diuraikan di atas itulah yang sepertinya mendasari sehingga Opu BalirantE ditawari untuk mengisi kekosongan jabatan Paddanreng Talo’tenreng ini, disamping masih keluarga dekat sebagai cucu langsung dari La MungkacE To Uddamang, juga sebagai sepupu sekali sekaligus sebagai Ipar dari La Sigajang To Bunne. Dan mungkin pertimbangan lainnya adalah agar bisa mendapat dukungan secara politik yang kuat, karena dianggap bisa menghubungkannya secara politik dengan Luwu. Pada saat Opu Balirante menerima tawaran menjadi Paddanreng Talo’tenreng, penulis memperkirakan umurnya pada kisaran 50an tahun, dan putranya yang diperkirakan sebagai La Maddusila itu sudah berumur 30-an tahun.

E. TERSINGKIRNYA KLAN OPU BALIRANTE DI LUWU DAN WAJO

Di Luwu, setelah wafatnya La Patiware’ Daeng Parabbung Petta MatinroE ri Ware’, terjadi konflik perebutan kekuasaan yang menyebabkan terjadinya dualisme kekuasaan yang membagi Luwu menjadi dua yaitu utara dan selatan. Istana Datu Luwu Yang berpusat di Malangke diduduki oleh La Sumange’rukka Patimpa’Saung Petta MatinroE ri Malangke, sementara istana Datu Luwu yang berpusat di Kamanre diduduki oleh Patiaraja Petta MatinroE ri Somba Opu. Berdasar pada garis silsilah dan aturan main dalam wari’ pangadareng maka Datu Luwu yang sah adalah La Sumange’rukka Patimpa’Saung, dimana ibu beliau adalah istri (pada/sederajad) pertama sekaligus sebagai permaisuri (Opu Datu) dari La Patiware’ Petta MatinroE ri Ware’.

Terjadinya dualisme ini kemungkinan besar diakibatkan oleh adanya perjanjian antara Pajung Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung dengan Somba Gowa pada saat dinikahinya Karaeng ri Balla Bugisi sebagai istri sederajad (pada) yang paling muda agar anaknyalah yang kelak menjadi Datu Luwu. Dimana diketahui pada masa itu Gowa sedang berada dalam masa-masa kejayaannya. Dalam Lontarak akkarungeng Luwu disebutkan bahwa ayah dari Karaeng ri Balla Bugisi adalah I Taji Barani Karaeng Tuni Batta. Dan Luwu ikut dalam setiap perang yang dilakukan oleh Gowa, termasuk dalam memerangi Sailong Bone, diamana pada saat itulah La Patiware menikahi We Tenri Waja Datu Sailong yang kemudian menjadi Permaisuri di Luwu. Perjanjian semacam ini dikemudian hari juga pernah terjadi antara Datu Luwu La Settiaraja Petta MatinroE ri Tompottikka dengan La Tenritatta Arung Palakka saat ingin menikahkan La Patau Matanna Tikka dengan We Ummung Datu Larompong. Sehingga klan Luwu-Gowa ini merasa lebih berhak dari klan Luwu- Sailong Bone. Sehingga terjadilah konflik dan perang yang berkepanjangan, diperkirakan selama tiga tahun lamanya.

E1. Dimanakah Posisi Opu BalirantE sebagai Klan Luwu-Wajo pada saat perang saudara ini ?

Posisi Opu BalirantE sangat jelas sesuai dengan jabatan yang melekat pada namanya yaitu berpihak kepada Klan Luwu-Bone (La Sumange’Rukka Patimpa’Saung), dipertegas dengan jabatan saudaranya yaitu sebagai Opu Patunru’. Keberpihakan ini tentu membuat munculnya rasa tidak nyaman dan kebencian oleh Klan Luwu-Gowa (Patiaraja bersaudara) terhadap saudara sebapaknya yaitu Klan Luwu-Wajo (Opu BalirantE bersaudara). Hal ini biasa terjadi pada keluarga yang bertikai dimana salah satu saudaranya yang berpihak pada yang lain lebih dibenci daripada saudara yang menjadi lawan bertikainya sendiri.

E2. Islah antara Klan Luwu-Bone dengan Klan Luwu-Gowa dan Tersingkirnya Klan Luwu-Wajo

Perang saudara telah usai yang difasilitasi oleh Anak TelluE (Maddika Bua, Maddika Ponrang dan Makole Baebunta) yang kemudian memberikan hak tahta yang penuh kepada La Sumange’Rukka Patimpa’saung Petta MatinroE ri Malangke, sementara Patiaraja kembali ke negeri ibunya dan saudara perempuannya yang sebelumnya sudah lebih dahulu menjadi Somba BainEa (Permaisuri dari I Mangerangi daeng mangrabbia Sultan Alauddin) di Gowa , namun sisa-sisa perang masihlah berbekas direlung hati masing-masing. Hal inilah yang kemungkinan besar mendasari sehingga Klan Luwu-Bone (Patimpa’Saung) kembali mencoba membangun hubungan dalam ikatan yang lebih dekat dengan keluarga Luwu-Gowa nya, dengan cara menikahkan putranya yaitu La Palisubaja Baso’ Langi dengan Daeng MasallE (Putri dari Sultan Alauddin dengan We Taddampali Somba BainEa), yang kelak menjadi Raja dan Permaisuri di Luwu dan melahirkan Datu Luwu La Settiaraja Petta MatinroE ri Tompottikka.

Biasanya Islah diantara kedua orang dalam keluarga yang bertikai, tetap menyisakan ketidaksukaan pada keluarga yang berpihak. Hal inilah yang membuat secara politik Klan Luwu-Wajo (Opu Balirante) beserta turunannya tersingkir setelah itu, karena Islah tersebut menyebabkan pengaruh Gowa dalam KeDatuan Luwu begitu Dominan, hal ini dibuktikan saat La Palisubaja Baso’ Langi Daeng Mattuju Petta MatinroE ri Gowa menjadi Datu Luwu, lebih banyak menghabiskan hidupnya di Gowa. Yang kemudian dilanjutkan oleh Putranya yaitu La settiaraja Petta MatinroE ri Tompottikka yang berpihak ke Gowa saat perang Makassar.

E3. Peristiwa Peneki, Perang Wajo-Bone di Patila dan ikut campurnya Gowa dalam perang Tersebut serta Tersingkirnya Klan Opu BalirantE (Paddanreng Talotenreng)

Terjadinya peristiwa di Peneki menjadi pemicu perang antara Bone – Wajo/Gowa, yang kelak tidak pernah berhenti sampai di Perang Makassar. Peristiwa pembakaran Peneki oleh Bone pada masa Arumpone La Maddaremmeng, membuat tersinggung La Sigajang To Bunne yang menjadi Arung Matowa Wajo pada masa itu. Sehingga La sigajang To Bunne memimpin perang di patila yang membuatnya terbunuh di Patila sehingga beliau begelar: La Sigajang Tobunne Pawelaiyye ri Musu Attang Patila Arung Matoa Wajo XIX (1639-1643).

Maka pecahlah “Perang Wajo”, suatu peristiwa yang memecah persekutuan ‘’Mattellumpoccoe” yang diikrarkan pada piagam perjanjian “Lamumpatue ri Timurung”. Perang ini semakin besar setelah turut campurnya Gowa dalam membantu Wajo, mengingat Gowa dan Wajo memiliki keterhubungan yang sangat dekat yang dibangun saat Sultan Alauddin dan Karaeng Matoaya pernah berguru dan dijadikan anak oleh La MungkacE To Uddamang MatinroE ri Kannana. Kejadian ini kemudian menimbukan efek domino yang memicu perang besar berikutnya yang melibatkan sebagian besar kerajaan di Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara. Ujung dari kejadian tersebut adalah terjadinya Perang Makassar yang dahsyat itu, suatu ledakan peristiwa yang memetakan wilayah Indonesia Bagian Timur hingga pada hari ini.

Pengaruh Gowa masuk lagi di Wajo, menyebabkan Klan Opu BalirantE lagi- lagi mendapatkan posisi yang tidak nyaman. Dimanapun klan ini berada disitu ada Dominasi Gowa. Sehingga membuat Klan ini tersingkir lagi di Wajo. Kemungkinan Opu BalirantE (Paddanreng Talo’tenreng) beserta putranya (La Maddusila) ikut dalam perang di Patila, kemungkinan besar Opu BalirantE wafat dalam perang tersebut (tahun 1643). Sehingga dalam kisah selanjutnya La Maddusila dan kedua putranya yaitu La Tenri Borong Opu Daeng ri Laga dan La Bimbi Opu Daeng Biasa memilih kembali menetap di Luwu sebagaimana diberitakan oleh Tuhfat Al Nafis, tentang keputusan mereka menetap di Luwu. Tapi karena secara politis klan mereka tidak mendapatkan tempat, maka setelah wafatnya La Maddusila kedua putranya memilih meninggalkan tana Luwu, dimana Opu Daeng Biasa lebih dahulu berangkat ke Batavia, dan Opu Tenri Borong beserta putra-putranya memilih meninggalkan Tana Luwu menuju Pammana, kemudian ke Bone- makassar-Bone, kemudian meninggalkan Sulawesi menuju Tana Bare’. Keputusan meninggalkan sulawesi ini juga disarankan oleh Arung Pone pada saat itu setelah terjadinya peristiwa pembunuhan di Makassar oleh Opu Daeng Parani terhadap salah seorang anak bangsawan Gowa.

F. La Tenri Borong Opu Daeng ri Laga tidak Terlibat Dalam Perang Makassar.
Dari runutan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa itu yang membuat posisi Klan Luwu-Wajo (Opu BalirantE) tersingkir secara politis di dua kerajaan besar tersebut, dapat dimaklumi kalau Opu Daeng ri Laga tidak terlibat dalam perang Makassar. Karena Kerajaan Luwu dan Wajo di Era Datu Luwu La Settiaraja Petta MatinroE ri Tompottika adalah dua kerajaan yang secara resmi berada di pihak Gowa dalam perang Makassar. Dimana dari runutan peristiwa di atas menyebutkan bahwa tersingkirnya Klan Opu BalirantE itu karena dominannya pengaruh Gowa di dua Kerajaan diatas. Karena itu secara otomatis Klan Opu Balirante dalam hal ini La Tenri Borong Opu Daeng ri Laga tidak berpihak ke Gowa.

Kemudian apakah La Tenri Borong Opu Daeng ri Laga berpihak ke Bone? Menurut hemat penulis, juga itu hal yang tidak mungkin mengingat kerajaan Luwu dan Wajo secara resmi berpihak ke Gowa, tentu sebagai seorang bangsawan yang memegang teguh prinsip Siri’ (martabat dan harga diri) tidaklah mungkin menghianati negeri tempatnya bernaung meski tidak mendapat tempat lagi secara politis di kedua negeri ini. Kemudian alasan lain yang memperkuat bahwa beliau tidak berpihak ke Bone adalah kemungkinan penyebab kematian kakeknya (Opu Balirante) disebabkan perang yang terjadi di Patila antara Wajo dan Bone dimana Opu Balirante pada saat itu menjabat sebagai Paddanreng Talo’tenreng. Dan dalam perang itu banyak bangsawan Wajo yang terbunuh termasuk Arung Matowa Wajo La Sigajang To Bunne. Jadi dengan alasan diatas kemungkinan besar hal inilah yang menyebabkan Opu Daeng ri Laga tidak terlibat dalam perang Makassar.

G. Hubungan Antara Opu Daeng ri Laga Dengan La Tenritatta Petta MalampE Gemmena Arung Palakka ArumponE Penguasa Bontoala
Dalam Lontarak Panguruseng Wajo, Soppeng dan Bone diuraikan bahwa hubungan antara La Tenritatta Arung Palakka dan Opu Daeng ri Laga sangat jelas tergambarkan. Yaitu ibu dari La Sigajang To Bunne’ Arung Matowa Wajo dan We Makkasau (Istri Opu BalirantE/Paddanreng Talotenreng yang melahirkan La Maddusalat/La Maddusila) yaitu We Tenri Esa Tenri Palennareng Datu Baringeng bersaudara kandung dengan ayah La Tenritatta Arung Palakka yaitu La Potto Bunne’ Arung Tana Tengnga. Dari perkawinan antara We Makkasau dengan Opu BalirantE melahirkan La Maddusila, kemudian La Maddusila memperanakkan La Tenri Borong Opu Daeng ri Laga dan La Bimbi Opu Daeng Biasa.

Jadi secara garis silsilah Opu Daeng ri Laga terhitung cucu kemanakan (Appo sapposiseng) dari La Tenritatta Arung Palakka, meski umur keduanya tidak jauh berbeda atau sebaya. Hal ini biasa dijumpai dalam masyarakat bugis makassar dimana seseorang yang umur sebaya, tapi secara generasi silsilah mereka adalah cucu dan kakek. Hal ini sangat rasional karena Opu Daeng ri Laga bukanlah cucu langsung dari Arung Palakka tapi cucu kemanakan (Appo Sapposiseng). Karena itulah wajar kalau ArumponE yang disebutkan dalam Tuhfat Alnafis memiliki hubungan yang dekat dengan Opu Daeng ri Laga.

Pada Picture C bagan silsilah lengkap dari Opu Lima bersaudara berdasar runutan peristiwa diatas.

About the author

Andi Rahmat Munawar

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.