Word up solutions Word Trek answers Amoeba Word Trek answers Ostrich Word Trek answers Koala Bear Word Trek answers Average Joe Word Trek answers Mars Word Trek answers Jupiter
Panre Bassi Menghitung Hari - SEMPUGI
Berita Budaya

Panre Bassi Menghitung Hari

Written by Nurul Fajri
Panre Besii

Foto by: Chaerum

Siang itu, sekelompok orang muda menelusuri Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep. Di tengah mendungnya cuaca, mereka berjalan memasuki lorong demi lorong. Tibalah lima pemuda dan seorang gadis di depan sebuah rumah panggung. Kehadiran mereka disambut oleh loncatan bunga api dari bilah-bilah besi yang dipanaskan. Saat itulah Panre Beddu beraksi.

Ia sibuk menempa besi di depan rumahnya. Deru percikan api beradu dengan besi memekak telinga. Seperti kembang api yang dimainkan kala malam tahun baru, sesekali panre akan mengeluarkan bilah besi dari api.

Bagi masyarakat Bugis, Panre Bassi adalah julukan bagi yang sehari-hari berprofesi sebagai pandai besi. Biasanya, keahlian mereka diwariskan turun temurun.


Sebutlah Panre Beddu. Ia melakoni pekerjaannya selama lima puluh tahun. Dari ayahnya yang juga seorang Panre Bassi, mengalirkan darah panre pada jiwa Panre Beddu. Sudah lima puluh tahun hidupnya dihabiskan untuk menempa besi. Ia lebih banyak bergeliat dengan berkarung-karung arang, palu, tumpukan besi, juga contoh bilah pesanan.

Untuk membuat sebilah Kawali atau Badik tidaklah semudah membalik telapak tangan. Prosesnya adalah perpaduan seimbang antara kualitas besi, bara, serta kemahiran panre. Untuk menghasilkan sebuah bilah bertuah, dibutuhkan tiga tahapan. Massusung, Mallonjo, serta Mattunu.

Pertama-tama, Panre akan menyusun besi sebelum ditempa. Dalam proses Massusung, Panre akan menumpuk semua jenis besi. Jumlah besi yang disusun bervariasi. Tergantung pada pesanan pembeli. Sebilah Kawali, jumlah besinya bisa terdiri dari 20 hingga 60 susun besi. Selain besi untuk membuat bilah, ada juga pamor yang nantinya menjadi varian setiap bilah.

Setelah ditumpuk serta diratakan, besi-besi ini kemudian dibakar dalam api. Jika dirasa cukup panas oleh Panre, maka besi ini akan dikeluarkan dari api untuk ditempa. Proses menempa atau disebut Mallonjo dilakukan saat api telah menyatu dengan besi. Mallonjo merupakan proses yang dilakukan bergantian dengan Mattunu atau membakar.

Sebilah kawali tidak hanya terdiri dari satu susunan besi, biasanya dibuat dari dua susunan besi. Semisal yang juga ditempa oleh Panre Kunding di Segeri, Kabupaten Pangkep. Dua tumpukan besi, yang masing-masing tumpukannya berisi dua puluh besi ditambah pamor.

Mallonjo akan dilakukan terus menerus hingga kedua tumpukan mampu digabungkan menjadi satu. Setelah digabung, proses Mallonjo dan Mattunu pun harus berulang seperti semula.

Untuk di Kecamatan Segeri sendiri, hanya ada  dua panre yang bertahan hingga kini. Minimnya peran pemerintah dalam melestarikan profesi Panre Bassi juga menjadi kendala bagi mereka. Bertahan tanpa bantuan modal usaha harus dijalani sendiri. Mereka belum dilirik sebagai pangsa produktif. Padahal Kawali yang lahir dari tempaan mereka adalah Kawali terbaik di negeri ini.

Kini, geliat para kolektor atau penyuka benda pusaka sejenis badik perlahan tumbuh dalam jiwa pemuda di tanah Sulawesi. Namun hal ini tidak diiringi dengan pelestarian profesi panre.

Semoga di kehidupan masa depan, kepandaian Panre tak sekedar mitos bagi generasi muda. Mereka harus dijumpai dengan mudah juga mampu bertahan oleh terpaan arus modernitas. Segala harap agar profesi mereka juga diperhitungkan sebagai lahan yang bisa menjadi sumber pencarian utama, tidak lagi sekedar pekerjaan sampingan yang tak menjanjikan kehidupan.

Panre Beddu dan Panre Kunding yang ditemui di Segeri berharap agar pemerintah juga memperhitungkan profesi mereka. Sebab kelangkaan panre hari ini salah satunya adalah alasan ekonomi. Para panre bassi, tinggal menghitung hari kapan kepunahan keterampilan menempa besi akan datang.

by: Nufach

About the author

Nurul Fajri

Sempugi's Writer

Leave a Comment