You are here: Home » Budaya » NASEHAT MACCAE RI LUWU KEPADA LA BASO

NASEHAT MACCAE RI LUWU KEPADA LA BASO

NASEHAT MACCAE RI LUWU KEPADA LA BASO*
Ahmad Saransi **

Konon kabarnya dalam lontara dikisahkan, bahwa sebelum La Baso To Akkaangeng memangku salah satu kedatuan di Soppeng, atas permintaannya, dia ke Luwu untuk memperoleh nasehat dari si nenek, cendekiawan Luwu, mengenai beberapa hal yang dapat menimbulkan rasa penyesalan. Ada lima macam yang dapat menyebabkan orang terhindar dari rasa penyesalan. (a) pikiran, (b) pertimbangan (c) pilihan (d) kewaspadaan, dan (e) perasaan malu.

Adapun yang menutupi yang lima macam itu adalah lima macam pula: (a) Yang menutupi pikiran jikalau orang tidak lagi takut pada setiap kata dan perbuatannya; (b) yang menutupi pertimbangan jika¬lau orang suka sekali marah; (c) yang menutupi pilih¬an ialah kebodohan; (d) yang menutupi kewaspadaan ialah kelalaian; dan (e) yang menutupi perasaan malu ialah kerakusan. Sesungguhnya perbuatan dan perkataan yang bermanfaat berada di sisi orang yang punya pikiran; sesungguhnya perbuatan yang patut dan layak berada di sisi orang yang punya pertimbangan; sesungguhnya perkataan yang elok tanpa dibuat-buat berada di sisi orang yang berilmu; sesungguhnya kelakuan dan kata-kata yang buruk berada di sisi orang yang bingung; dan sesungguhnya kelakuan dan kata-kata yang salah berada di sisi orang yang bebal.

La Baso dipesankan juga mengenai syarat-syarat orang yang akan diangkat untuk menduduki sesuatu jabatan, sesuatu tanggung jawab. Memang si nenek adalah cendekiawan, sebab kalimat yang digunakannya tidak dialamatkan kepada diri La Baso, yang segera akan menduduki jabatan kedatuan Soppeng. Mungkin pada dirinya sudah terasa bahwa syarat-syarat yang akan dikatakan itu sebenarnya bukan saja bermanfaat bagi orang lain tetapi terlebih-lebih bagi dirinya. Syarat-syarat itu ialah :

(a) orangnya harus punya kejujuran,

(b) orangnya harus berfungsi akalnya,

(c) orangnya harus punya keberanian. dan

(d) orangnya harus kaya.

Adapun tandanya kejujuran itu ada empat juga

(a) Jika orang berbuat salah kepadanya, dia lantas memberi maaf;

(b) jika diserahi amanat, dia tidak ber¬buat khianat;

(c) jika bukan bagiannya, dia tidak menserakahinya; dan

(d) jika kebaikan hanya bagi dirinya itu bukan kebaikan, sebab baginya kebaikan itu ialah yang dinikmati bersama. Adapun tandanya orang yang punya pikiran ada empat pula:

(a) orangnya cinta kepada perbuatan yang bermanfaat;

(b) orangnya suka kepada kelakuan yang menimbulkan kemaslahatan;

(c) orangnya jika menemu persoalan selalu berusaha mengatasinya;

(d) orangnya jika melaksanakan segala sesuatu selalu berhati-hati.

Adapun tandanya orang yang berani ada empat pula : (a) orangnya tidak gentar mendengar berita buruk dan berita yang menyenangkan; (b) orangnya tidak suka mendengarkan kabar angin walaupun dia tetap memperhatikannya; (c) orangnya tidak takut ditantang; dan (d) orangnya tidak membeda-bedakan lawan yang banyak dan lawan yang sedikit. Adapun tandanya orang yang kaya juga ada empat: (a) orang¬nya kaya kata sebab dia tidak pernah kehabisan kata yang disertai dengan kepatutan; (b) orangnya kaya buah pikiran; (c) orangnya kaya usaha; dan (d) orangnya kaya belanja, lagi murah hatinya.

Ketulusan hati La Baso menyebabkan dia menanyakan pula syarat-syarat yang dapat memperbaiki pemerintahan. Si nenek memberi tahu kepadanya delapan syarat :

(a) kejujuran;

(b) kata benar,

(c) keteguhan,

(d) perhatian,

(e) murah hati,

(f) ketulusan

(g) berani, dan

(h) ketenangan;

yang tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

(a) orang yang jujur adalah orang yang membuat sulit dirinya,

(b) orang yang berkata benar adalah orang yang selalu basah lidahnya dengan kata yang telah ditetapkan,

(c) orang yang teguh pendirian adalah orang yang senantiasa tidak ingkar janji,

(d) orang yang punya perha¬tian adalah orang yang selalu memikirkan perbaikan negerinya, baik di waktu siang maupun di malam hari,

(e) orang yang murah hati adalah orang yang suka memberi makan dan minum, baik diwaktu siang maupun di malam hari,

(f) orang yang berhati tulus adalah orang yang tidak gusar dan marah bila ditegur,

(g) orang yang berani adalah orang yang tidak membedakan antara kematian dan hidup, dan

(h) orang yang berhati tenang adalah orang yang merasa sama saja di waktu sempit dan lapang.

Sebelum La Baso melompat ke atas kudanya untuk balik kembali ke Soppeng, si nenek memegang bahunya sambil membisikkan kepada cucunya : “Jangan sampai engkau terlalu manis; jangan sampai juga engkau terlalu pahit. Sebab jikalau engkau terlalu manis, orang akan menelan engkau; jikalau engkau terlalu pahit, orang akan memuntahkan engkau. Pegang baik-baik apa yang telah kupesankan kepadamu, wahai cucuku”. Setelah itu neneknya kembali menepuk bahu cucunya sambil memberi ucapan selamat jalan kepada La Baso To Akkarangeng.

…Sementara itu, dalam kondisi kekinian, masyarakat Sopppeng diliputi suasana keharuannya menanti pemimpin baru sambil mengucapkan selamat datang Pak H. Andi Kaswadi Razak selaku pemimpin baru di Soppeng semoga pesan-persan tersebut dapat merefleksi kepemimpinan Bapak dalam menanta Bumi Latemmamala yang lebih maju, berbudaya dan lebih bermartabat. Salamaki to pada salama..
* Judul asli NASEHAT MACCAE RI LUWU KEPADA LA BASO (REFLEKSI BUAT H. A. KASWADI RAZAK SELAKU BUPATI SOPPENG) source : https://www.facebook.com/notes/ahmad-saransi/nasehat-maccae-ri-luwu-kepada-la-baso-refleksi-buat-h-a-kaswadi-razak-selaku-bup/10153557997804209 diubah atas seizin penulis
** Penulis adalah Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan Kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Prov. Sulsel ; Dosen Luar Biasa Unhas dan UIN Alauddin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *