Word Trek cheats Word Trek answers Goldfish Word Trek answers Sea Lion Word Trek answers Kangaroo Word Trek answers Elephant Word Trek answers Alpha Word Trek answers Pandora
anak-anak suku bajo
Berita Budaya

Menyapa Anak-Anak Suku Bajo

Written by Nurul Fajri
Anak-anak Bajo. Photo by Nufach

Anak-Anak Suku Bajo.
Photo by Nufach

Pendar langit senja menjadi latar saat saya mengunjungi anak-anak Suku Bajo di Teluk Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (24/2). Sore hari menjadi pilihan terbaik bagi mereka untuk bercengkrama dengan alam. Farid, salah satu anak Suku Bajo, tengah asik memancing ketika saya menghampiri.

Penasaran dengan hasil pancingannya, saya memutuskan untuk bertanya. Namun niat itu kembali saya urungkan. Di kepala saya berkelebat anggapan bahwa anak-anak Bajo tidak bisa bahasa indonesia. Beberapa liputan tv berhasil mempengaruhi saya bahwa anak-anak Etnis Bajo hanya mengetahui Bahasa Sama, bahasa pengantar di kalangan masyarakat Bajo. Pada kenyataannya, mereka bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia juga Bahasa Bugis.

Perkenalan singkat antara saya dan Farid, siswa kelas 6 sekolah dasar, terjadi ketika umpannya berhasil mendapat ikan. Dengan cekatan, tangan kurusnya yang terbakar matahari mengangkat senar pancing dengan cekatan. Ia hanya butuh duduk selama 15 menit demi memperoleh 6 ekor ikan. Selanjutnya, saya telah menerka bahwa ikan itu akan dibawanya pulang ke rumah.

Farid, juga seperti anak-anak Bajo lainnya, mahir mendayung perahu. Ia belajar secara otodidak. Tak jauh dari Pelabuhan Bajoe di Teluk Bone, Farid mendayung menuju tengah lautan melintasi perahu-perahu yang bersandar. Terdapat pula beberapa bocah tengah berenang di laut. Memancing dan berenang adalah dua aktifititas rutin yang mereka senangi.

Selain bermain di laut, beberapa anak perempuan berkelompok duduk menikmati angin laut. Rambut mereka beterbangan ketika disapa angin. Sesekali mereka akan menyampirkan helain rambut ke telinga.

Mengenai asalnya, konon Suku Bajo adalah masyarakat Kerajaan Johor, Malaysia. Dikisahkan dahulu kala, Raja Johor memiliki putri kesayangan bernama Putri Papu. Ketika putrinya tengah mandi di sungai, datanglah air bah hingga menghanyutkan sang putri. Kemudian Raja memerintahkan pada seluruh warganya untuk mencari sang putri. Rakyat Johor tidak diperkenankan pulang jika anak kesayangannya belum ditemukan. Singkat cerita, putri tersebut ditemukan oleh anak Raja Bone yang kemudian membawa dara cantik ini pulang dan menikahinya.

Singkat cerita, sang putri pun melahirkan seorang bayi. Ia barulah diketahui sebagai anak Raja Johor saat berusaha mendiamkan anaknya yang rewel. Bayi itu berhenti menangis ketika ibunya menyebut dalam Bahasa Johor. “Kamu ini keturunan Johor, diamlah!” kata Putri Papu. Maka Raja Bone mengirim surat kepada Raja Johor bahwa putrinya telah ditemukan.

Namun tidak demikian dengan warga Johor yang mencari Putri Papu. Sebab tak ingin mati jika sang putri tidak ikut pulang, akhirnya mereka menyebar ke berbagai tempat. Warga Johor tercatat datang ke Kepulauan Togean sekitar tahun 1800-an. Kata Bajo konon merupakan singkatan dari kata “Bangsa Johor”.

Masyarakat Bajo kemudian banyak dikenal menetap di berbagai pesisir kepulauan. Dengan julukan sebagai pengembara laut, mereka tersebar di Kepulauan Laut Sulu, sepanjang panjang pantai Mindanao (selatan Filipina), barat laut Kalimantan (Malaysia) serta timur laut Kalimantan (Indonesia). Pemukiman etnis ini juga mendiami wilayah timur Indonesia seperti Maluku, tersebar di Nusa Tenggara, sekitar Kendari, Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Bonerate Selayar, Kepulauan Spermonde, serta wilayah Teluk Bone, pesisir di mana saya berjumpa dengan Farid.

Mahir mendayung dari otodidak. Photo by Nufach

Mahir mendayung dari otodidak.
Photo by Nufach

Profesi masyarakat maritim ini tidak hanya sebagai penangkap ikan. Komoditas seperti kerang mutiara, teripang, sisik penyu, mutiara, kerang, karang juga rumput laut pun dicari oleh mereka. Selain itu aktifitas perdagangan mereka juga memasok akar-akaran dari bakau, kulit dan kayu bakau, kayu garu, damar, lilin tawon lebah, atau sarang burung.

Sore itu, hasil tangkapan nelayan telah menepi. Ibu-ibu pun berkerumun. Senja semakin redup. Awan-awan tebal yang sejak sore menghiasi langit, menjadi semakin tebal. Hari perlahan berganti gelap, lampu-lampu dinyalakan. Namun anak-anak Bajo masih di sana, bermain dan tertawa riang bersama sebayanya. Tawa renyah mereka adalah jawaban bahwa laut adalah sekolah, perahu sebagai guru, dan dayung sebagai teman. Jiwa muda mereka tidak bisa sekedar dipenjarakan oleh ruang kelas. Sebab alam adalah rumah bagi mereka.

About the author

Nurul Fajri

Sempugi's Writer

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.