Word up solutions Word Trek answers Starfish Word Trek answers Dinosaur Word Trek answers Lion Word Trek answers Average Joe Word Trek answers Alabaster Word Trek answers Fondue
Mengapa Mereka Memberontak
Resensi Sejarah

Mengapa Mereka Memberontak

Written by Nurul Fajri
Sampul Buku. Photo by Nurul.

Sampul Buku. Photo by Nurul

Tersingkirnya Para Patriot Bangsa

Buku Mengapa Mereka Memberontak dipinjamkan ayah dari perpustakaan kantornya. Saat saya tengah duduk mengetik, sambil membagi perhatian pada kehadirannya, ayah mengulurkan buku ini. Saya melihat sekilas sampulnya. Meraihnya dan membaca segera deskripsi buku pada sampul belakang buku. Mengejutkan. Ada ulasan tentang para pemberontak yang sebenarnya patriot.

*

Benarkah mereka adalah pemberontak sebagaimana yang didiktekan bangku sekolah pada kita? Benarkah bahwa mereka adalah pemberontak garis kanan seperti yang dituduhkan orde baru pada mereka?

Ini adalah kumpulan tulisan dari beberapa penulis yang mengulas dari berbagai sudut pandang tentang pemberontakan di Indonesia. Bacaan ini menyuguhkan uraian tentang pemberontak dan pahlawan yang bagai dua sisi mata uang. Disebut seperti ini sebab terdapat sekat yang tipis untuk memisahkannya.

Sisi lain sejarah Indonesia di awal kemerdekaan juga diulas di sini. Banyak pergolakan yang turut mewarnai “Proklamasi Kemerdekaan”. Datang dari luar, ketika Belanda meluncurkan agresi militernya, juga pemberontakan dari warga Indonesia sendiri.

Kebijaksanaan adalah hal yang kita butuhkan ketika membaca peta sejarah bangsa. Sama halnya saat kita harus memahami peran Kartosuwirjo, teman seperjuangan Bung Karno, yang vokal dalam Partai Sarekat Islam Hindia Timur (PSIHT), saat keluar dari sana dan memilih mendirikan partai sendiri.

Juga tentang tokoh fenomenal dari tanah Sulawesi, Abdul Qahhar Mudzakkar. Qahhar yang tidak jauh berbeda dengan Kartosuwirjo ini, adalah pemuda gagah berani dengan sebilah parangnya setia menjaga Bung Karno di lapangan IKADA 19 September 1945. Ia juga adalah patriot yang masuk dalam pasukan berani mati mempertahankan kemerdekaan. Bahkan sebelum memutuskan bergabung dengan Kartosuwirjo, pemuda yang didakwa oleh Raja Luwu sebab dituduh mencuri harta ini pun membutuhkan waktu lama untuk bergabung.

Daud Beureuh dari Aceh pun adalah seorang patriot. Dianugerahi Jendral Mayor Tituler oleh Presiden Soekarno atas jasa-jasanya menyatukan laskar perang di Aceh. Salah satu sumbangan besarnya kepada pemerintah yaitu melakukan penggalangan dana dari rakyat Aceh untuk pengadaan pesawat bagi angkatan udara yang juga cikal bakal Garuda Indonesia Airways. Sayangnya, meski usianya harus ditutup dengan julukan dalang dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Daud Beureuh juga dipenjarakan pada sebuah rumah megah di Kawasan Tomang, Jakarta Barat.

Gerakan Rakyat Tertindas pun muncul. Dimotori oleh Ibnu Hadjar dari Kalimantan Selatan yang berpangkat Letnan Satu Angkatan Darat. Melalui gerakan yang dibangunnya, gerilyawan yang awalnya setia pada Republik Indonesia ini, pun memilih haluan “pemberontak”.

Porsi Adil Berbuah Kecewa

Tak ada yang meragukan kesetiaan abdi Kartosuwirjo, Qahhar Mudzakkar, Daud Beureuh, Amir Fattah, serta Ibnu Hadjar. Masa pasca proklamasi adalah masa penting mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dibutuhkan konsistensi perjuangan serta sikap pasang badan dengan dosis tinggi agar penjajah kala itu bisa dipukul mundur. Bagi pasukan yang mereka pimpin, sejumlah nama besar ini adalah juaranya.

Penghargaan dari Ir. Soekarno serta karir politik mereka menjadi bukti nyata perjuangan kala itu. Namu mereka harus puas saat nama mereka dikenang sebagai pembelot republik. Mengapa?

Sikap adil dari seorang pemimpin bangsa harus menjadi hal yang dijunjung tinggi. Pemegang tahta tertinggi pemerintahan dipaksa jeli untuk berbuat adil terhadap mereka yang telah berjuang bagi kemerdekaan. Indonesia lepas dari cengkraman Belanda serta keluar dari mulut Jepang merupakan usaha kolektif. Perjuangan bersama yang mengorbankan banyak nyawa, perasaan, juga materi.

Alangkah tidak adilnya jika penghargaan atas jerih payah mereka tidak didahulukan. Bebekal pemimpin pasukan, mereka leluasa memerintahkan bawahannya jika menemukan situasi tidak kondusif. Dan benar saja, hal ini akhirnya terjadi. Para patriot-patriot ini tersingkir atas rasa kecewa yang pantas mereka dapatkan. Sejumlah janji hanya terucap pada mereka, tanpa pernah direalisasikan.

Perjuangan dan Pelajaran Masa Depan

Mereka mungkin dilabeli sebagai pemberontak yang menuntut berdirinya sebuah negara baru atas dasar kekecewaan. Bahkan kita sebagai generasi baru, anak bawang yang lahir kemarin sore kurang paham seluk beluk sejarah, pun turut menghakimi perjuangan mereka. Bahkan satu pun dari kita tidak pernah terlibat langsung melakukan pengorganisiran gerakan sebesar yang mereka lakukan.

Tanpa pernah mengenali sosok para patriot terpinggirkan ini, kita tidak akan pernah tahu bahwa Daud Beureuh mengharuskan para ulama untuk terlibat dalam persoalan keduniawian dan kemasyarakatan. Singkatnya, bagi pemilik nama lengkap Teungku Muhammad Daud Beureuh ini, ulama harus berada di tengah-tengah masyarakat.

Jika di masa lalu para ejuang ini berani menyuarakan kekecewaan yang mereka rasakan, mengapa generasi sekarang hanya bisa meradang sambil bisik-bisik di warung kopi tentang kekacauan bangsa ini? Mungkin iklim mengangkat senjata tidak terlalu terasa. Begitu pula dengan berkumpul bersama pemuda memikirkan nasib bangsa.

Alih-alih memperhatikan kisruh KPK-Polri, generasi muda lebih banyak sibuk mengagumi aktor serta aktris korea papan atas. Idola generasi muda berganti. Mereka kemudian akrab dengan ideologi lelaki-lelaki kemayu bergelar KPOP. Sungguh, tak ada yang salah dengan pilihan mereka menentukan idola. Semoga pilihan menentukan idola tak membuatnya lupa bahwa ada banyak sosok yang lahir dari tanah yang sama, berbudaya, menjunjung adat, lebih pantas untuk diidolakan. (NF)

About the author

Nurul Fajri

Sempugi's Writer

1 Comment

  • Ulasan yang menarik…,
    Tulisan yang menghadirkan kembali imaji-imaji perjungan masa lalu melalui para tokoh-tokoh yang hampir dilupakan oleh zaman menjadi secercah cahaya untuk merefleksikan sikap ke-Indonesia-an kita selama ini.

Leave a Comment