Word up Word Trek answers Starfish Word Trek answers Penguin Word Trek answers Donkey Word Trek answers Parrot Word Trek answers Milo Word Trek answers Greendor
kemiskinan jeneponto
Berita Budaya

Kemiskinan Pesisir dan Budaya Patriarki di Jeneponto; sebuah riset sosial

Written by Andi Faisal Anwar

Menyelesaikan masalah pendidikan masyarakat pesisir, maka sebagian besar kemiskinan terselesaikan. Jika jantung kemiskinan  sebagian besar berada di daerah pesisir maka pendidikan harusnya massif di daerah itu.

Pertanyaan klasik yang kerap kali muncul, mengapa Jeneponto masih saja dilabeli daerah termiskin? Bukankah setiap daerah punya potensi alam daerah masing-masing untuk maju?.  Ragnar Nurske seorang ekonom pembangunan ternama pada tahun 1953 yang terkenal dengan teori lingkaran setan  kemiskinan (the vicious cyrle of poverty) berkata bahwa suatu daerah yang terkungkung dalam lingkaran setan kemiskinan bilamana produktifitasnya rendah karena berpengaruh terhadap rendahnya pendapatan. Tidak produktifnya seorang ditandai dengan kebodohan atau keterbelakangan pendidikan dan kesehatan buruk.  Untuk itu jika pendidikan dan kesehatan suatu daerah berkualitas maka daerah itu  memiliki produktifitas yang tinggi sehingga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk maju dan sejahtera.  Sebagai negara sedang berkembang,fenomena sosial itu banyak terjadi di Indonesia. Dan sepertinya tidak terlalu berlebihan jika Jeneponto ditempatkan sebagai salah satu dari kabupaten termiskin di Indonesia, berdasarkan data Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) tahun 2013 terdapat tiga daerah di Sulawesi Selatan yang masih saja masuk dalam daftar daerah termiskin yaitu Jeneponto, Selayar dan Toraja Utara.  Jika seseorang bepergian ke arah selatan Sulawesi Selatan maka kita akan sampai di Kabupaten Jeneponto.  Tempat ini berjarak empat jam dari kota Makassar dan orang yang pertama kali menginjakkan kaki ditempat tersebut mungkin dalam benaknya bertanya-tanya mengapa tempat ini terlihat begitu kering dan tandus dan tidak seberuntung kabupaten tetangganya Takalar dan Bantaeng yang daerahnya kelihatan lebih hidup dan masyarakatnya lebih sejahtera.

 

Untuk menjawab kegelisahan-kegelisahan itu, sebuah penelitian di Jeneponto yang mencoba mengeksploirasi  hal itu 2 bulan yang lalu dengan mengambil sampel wilayah  pesisir Pabiringa dan Biringkassi, di Kecamatan Binamu. Hal ini berangkat dari gagasan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan sebagai upaya mereduksi kemiskinan.  Daerah ini dipilih sebagai sampel kemiskinan karena daerah pesisir merupakan daerah  yang penduduknya paling rentan dengan kemiskinan dengan struktur masyarakatnya begitu kompleks  dimana      populasinya lebih padat, tingkat putus sekolah yang tinggi, tingkat pengangguran yang begitu tinggi serta  ketahanan  sosial  yang begitu lemah, akibat mata pencaharian nelayan yang sangat bergantung pada cuaca dan alam.  Banyak temuan-temuan yang menarik  bahkan menghentak yang sebelumnya tidak diketahui orang banyak.

Meski wawancara ini ditujukan kepada laki – laki dan perempuan akan tetapi mayoritas responden adalah perempuan yakni sekitar 77 persen yang merupakan ibu rumah tangga dan  juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengikat rumput sedangkan laki-laki hanya sekitar 23 persen. Namun, hal ini disebabkan pada saat wawancara berlangsung  laki-laki  sedang tak berada di rumah yang notabene bekerja sebagai nelayan, petani rumput laut dan juga petani jagung hingga proses wawancara lebih banyak berinterkasi dengan para ibu-ibu. Mereka rata-rata berusia dengan kisaran 25 sampai dengan 60 tahun.

 

Bersekolah adalah hal yang paling mengasyikkan. Seorang anak pada umumnya tak ingin melewatkan hari-harinya dengan sekolah sebab dari sana begitu banyak cerita yang didapatkan, belum lagi bersua dengan teman sekelas sampai pada pengetahuan baru yang didapatkan. Jalan-jalan kota menjadi saksi dari hiruk pikuk aktivitas sekolah di pagi hari, anak kecil yang ditemani orang tuanya terlihat lalu lalang dari berbagai arah menuju ke sekolah. Tapi tidak dengan anak-anak pesisir yang ada di Pabiringa dan Biringkassi. Pemadandangan yang berbeda dapat kita temui di tempat itu yang tidak seramai meriah ditempat lain. Di  wilayah pesisir animo anak-anak untuk bersekolah tak  begitu besar bila dibandingkan dengan anak-anak sebayanya yang ada di kota. Hal ini di tunjukkan dengan   jumlah anak yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan. Di kedua desa itu jumlah anak yang mengenyam pendidikan SD hanya sebanyak 32 orang saja. Dengan rasio anak perempuan lebih rendah dari anak laki-laki yakni 42,85 persen dan laki-laki sebesar 57,14 persen. Sayang seribu sayang, pada level ini ditemukan beberapa anak yang putus sekolah. Nah, sedangkan mereka yang sedang  bersekolah pada tingkat SMP rasio laki-laki lebih rendah dari perempuan sebanyak 33,33 persen dan perempuan atau 66,66 persen. Pada level SMA terdapat 20 orang . Namun, sangat disayangkan  diantara 20 anak anak itu dilaporkan sebanyak 6 orang yang telah tamat SMU putus sekolah karena alasan tidak ingin bersekolah lagi dan ada juga menjawab bahwa ingin bekerja cepat hingga harus meninggalkan bangku sekolah. Tapi, ada berita gembira ditengah kondisi seperti itu karena ada 6 pemuda dikampung itu yang memiliki visi untuk melanjutkan kuliah di tingkatan perguruan tinggi hingga akhirnya akan memperbesar peluang lulusan pendidikan tinggi sebab menjadi sarjana adalah barang yang sangat langka. Berbicara tentang angka putus sekolah. Penyebab terjadinya putus sekolah tersebut karena anak laki-laki lebih senang bekerja sebagai abo-abo atau pengumpul rumput laut sebagaimana pekerjaan yang dilakukan orang tuanya sebagai petani rumput laut. Alasan lainnya, siswa yang merasa tidak pintar  dan membandingkan dirinya dengan teman-teman sekelasnya hingga merasa malu untuk melanjutkan sekolahnya. Berbeda dengan di kota, jika seorang anak merasa tak pintar maka akan mendapat dorongan dari orang tuanya untuk terus dan terus giat belajar. Akan tetapi berbeda dengan karakter orangtua di pesisir Pabiringa dan Biringkassi,keinginan untuk bersekolah dikembalikan kepada anak. Jika si anak dari dini menyatakan tidak ingin bersekolah lagi, maka si orang tua tidak terlalu menekan anaknya untuk kembali ke bangku sekolah hingga semuanya dikembali pada preferensi anak. Inilah yang banyak terjadi di desa ini, meskipun tak bisa di samaratakan dan menjadi kesepakatan umum tapi telah menjadi cara pandang kebanyakan orang tua desa. Pada tingkatan SMP,perempuan yang lebih dominan menempuh pendidikan SMP  dibandingkan dengan laki-laki sedangkan pada tingkat SMU jumlahnya relatif sama. Namun,di tingkatan perguruan tinggi secara kuantitas jumlah laki-laki jauh rendah yang menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi jika dibandingkan dengan perempuan.Nampaknya berdasarkan jenis kelamin,tingkat partisipasi sekolah perempuan mulai dari tingkatan SD sampai perguruan tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan karena terdapat kecendrungan anak perempuan lebih patuh dari anak laki-laki. Begitupun juga dengan tingkat putus sekolah, terlihat bahwa jumlah siswa perempuan yang putus sekolah mulai dari SD sampai SMA lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki dengan alasan anak laki-laki harus bekerja membantu orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga.  Sebagai masyarakat pesisir yang rentan terhadap kemiskinan dengan penghasilan orang tua yang seadanya terkadang menjadi faktor ketidakmampuan orang tua untuk melanjutkan pendidikan anaknya sehingga tidak heran beberapa anak putus sekolah dan memilih bekerja sebagai abo-abo  untuk membantu orang tuanya. Hal ini kembali mengingatkan kita bahwa faktor ekonomi kembali lagi menjadi salah satu faktor penentu angka partisipasi sekolah. Tingginya angka putus sekolah,terutama laki-laki yang menjadi abo-abo akibat permasalahan kebutuhan ekonomi. Walaupun pemerintah telah menghadirkan program pendidikan gratis namun itu tidak serta merta mengurangi angka putus sekolah secara keseluruhan karena keluarga yang tak mampu ternyata masih membutuhkan biaya-biaya lain seperti transportasi dan akomodasi untuk anaknya. Pemerintah setempat harusnya banyak belajar dari fenomena ini dalam menjawab masalah angka partisipasi sekolah khususnya pada anak laki-laki dengan memberikan perhatian yang lebih sebab pendidikan adalah harga mati kemajuan negeri ini dan anak – anak adalah aset kekayaan bangsa yang sangat berharga.

Jika menelusur masalah ini dari  sisi orang tua tentang pengambilan keputusan mereka sebagai mentor  yang mendesain  pendidikan anak-anaknya.  Uniknya, kebanyakan di desa ini keputusan dilakukan oleh istri saja dibandingkan dengan si suami sebab pandangan laki-laki kebanyakan menganggap masalah urusan yang ada di dalam rumah adalah urusan istri  sedangkan laki-laki bertugas mengurusi diluar lingkungan rumahnya. Hanya sebagian saja yang memahami kalau itu sebaiknya dilakukan secara bersama suami-istri sebab mereka memahami bahwa musyawarah untuk pengambilan keputusan dalam keluarga sangat penting meski mereka tak tau secara teoritis yang dimaksud pendidikan berwawasan gender. Kondisi ini mengindikasikan secara umum sekelompok masyarakat belum memahami pentingnya pendidikan yang berwawasan gender. Hal ini disinyalir dipengaruhi oleh faktor budaya dimana pekerjaan mengurus anak dipandang sebagai pekerjaan ibu rumah tangga saja dan tidak berhak untuk mengurusinya. Anehnya, jika ada laki-laki yang banyak terlibat dalam urusan yang dianggap pekerjaan ibu-ibu itu maka itu dianggap sebagai hal yang tidak lazim bahkan sedikit menggelikan bagi para ibu-ibu. Adanya dikotomi tentang peran orang tua itu, sangat berpengaruh terhadap proses kontrol pendidikan anak dalam keluarga termasuk untuk meminimalisir terjadinya angka putus sekolah itu sendiri. Dari cerita ini tampak jika ibu rumah tangga lebih dominan dalam hal proses kontrol pendidikan anak. Faktor penyebab dari masalah ini adalah tidak lepas dari kurangnya  pemahaman gender dalam keluarga tentang pentingnya secara bersama-sama mengontrol pendidikan anak apalagi orang tua sebagai guru pertama dalam keluarga yang seharusnya melakukan kontrol terhadap pendidikan anak dengan baik sehingga dapat menyukseskan pendidikan anak.

 dataSumber : Data diolah (September 2014)

Jika digali lebih dalam lagi tentang aspek sosiologis suami istri dalam internal keluarga tentang pandangan mereka mengenai klasifikasi  pekerjaan anak berdasarkan jenis kelamin. Untuk pekerjaan menyapu, lebih dominan memandang itu sebagai pekerjaan perempuan yakni sebanyak 70 persen dan hanya 23,3 persen yang memandang itu dapat dikerjakan secara bersama.Untuk pekerjaan mencuci piring, sebanyak 76,6 persen melihat itu sebagai pekerjaan perempuan dan hanya terdapat 23,3 persen yang berpendapat itu dikerjakan bersama dan pekerjaan mencuci piring sama sekali tidak dianggap sebagai pekerjaan yang dapat dikerjakan laki-laki. Dan begitupun juga terdapat kondisi yang sama terjadi untuk pekerjaan memasak. Sedangkan pada jenis pekerjaan mencuci pakaian,yang memandang itu sebagai pekerjaan perempuan presentasinya jauh lebih tinggi yakni 80 persen dan yang menganggap itu adalah pekerjaan bersama hanya sebesar 20 persen serta itu dipandang bukan sebagai pekerjaan laki-laki. Berbeda dengan pekerjaan membersihkan pekarangan rumah,terdapat 10 persen responden yang memandang itu adalah pekerjaan laki-laki namun tetap saja mayoritas yang mengatakan itu adalah pekerjaan perempuan dengan besaran presentase sebesar 66,6 persen dan hanya 23,3 persen yang memandang itu dikerjakan dapat dikerjakan secara bersama.Dan terkahir untuk jenis pekerjaan membantu ibu ke pasar sebanyak 76,6 persen berpendapat itu adalah pekerjaan perempuan dan hanya 23,3 persen yang berpendapat itu adalah pekerjaan bersama antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan laporan ini,mengindikasikan bahwa budaya patriarki yang masih kuat cenderung menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan sehingga menjadi faktor kesenjangan gender dalam masyarakat untuk menempuh pendidikan. Hal tersebut tergambarkan pada pola pendidikan anak yang bias gender dalam keluarga,  dimana mayoritas masyarakat setempat memandang bahwa pekerjaan rumah tangga hanya dikerjakan oleh perempuan dan laki-laki tidak diperkenakan untuk mengerjakannya. Sedangkan keterlibatan penuh orang tua dalam keluarga dalam proses edukasi anak dianggap sebagai bagian dari pendidikan non formal dalam keluarga yang sarat dengan proses transformasi nilai-nilai kemandirian,kedisiplinan,kerjasama dan kebersamaan yang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Disaat yang sama dilakukan wawancara terhadap guru-guru yang ada di SD yang ada di desa itu untuk mengetahui persepsi tenaga pendidik tentang pengarusutamaan gender dalam lingkungan sekolah.  Ketika ditanya tentang kata gender  seratus  persen menjawab tidak tahu dengan istilah tersebut akan tetapi pada praktiknya para guru memberikan perlakuan yang sama kepada setiap murid perempuan dan laki-laki dalam proses mengajarnya dan tidak ada pembedaan antar satu dengan yang lain. Alasan mengapa murid malas untuk sekolah nampaknya diakibatkan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak menjadi faktor penyebab yang terbesar sehingga anak malas untuk sekolah dan sebanyak 33,3 persen diakibatkan karena kurangnya komunikasi antara orang tua dengan guru sebab bagaimanapun kedua-duanya adalah ikon pendidik bagi anak dan memiliki dampak yang besar bagi kecerdasan anak.

Mengenai peran pemerintah dalam menangani masalah ini pada umumnya warga desa Pabiringa dan Biringkassi mendapatkan bantuan pendidikan gratis dan beberapa bantuan lainnya seperti bantuan beras RASKIN. Anehnya, ternyata beras itu tidak didapatkan secara gratis akan tetapi dibeli dengan harga murah walaupun seharusnya beras itu didapatkan secara gratis. Selain itu mereka juga mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT)  akan tetapi bantuan-bantuan tersebut masih jauh dari rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,terutama untuk membantu biaya-biaya operasional dan sekolah anaknya.  Pemerintah seharusnya hadir untuk rakyat menyelesaikan problematika ini dan bukan justru menjadi bagian dari masalah. Sungguh sebuah ironi di negeri yang begitu kaya,tapi rakyatnya harus hidup miskin dan terbelakang. Ini kembali mengingatkan kita tentang sebuah ungkapan bahwa sesungguhnya kemiskinan dan kebodohan bukan takdir tetapi sesuatu yang diciptakan.

Penulis: Andi Faisal Anwar

* Diangkat dari hasil riset pengarusutamaan gender bidang penidikan dan budaya di Jeneponto

 

About the author

Andi Faisal Anwar

Penikmat budaya lokal khususnya yang ada di Sulawesi Selatan.Dan sangat tertarik dengan wacana Eco-Cultural

Leave a Comment