Word Trek answers Word Trek answers Crab Word Trek answers Owl Word Trek answers Cat Word Trek answers Parrot Word Trek answers Cyborg Word Trek answers Serenity
sejarah islam gowa
Budaya Sejarah

Islamisasi di Kerajaan Gowa

Written by Darsam

Berbicara mengenai proses Islamisasi di Kerajaan Gowa,  menurut Lontarak Bilangna Gowa – Tallo, itu dimulai  pada abad 16 silam. Kala itu, Raja Gowa dijabat oleh I Manga’rangi Deng Manrabbia dan Mangkubuminya (Karaeng Mabbicara Butta) dijabat oleh I Mallingkaang Daeng Nyonri. Saat itulah  Islam  diperoklamirkan sebagai agama kerajaan di Keraajan Gowa.

Tapi sebelum abad 16 itu, apakah Islam  sudah ada di Kerajaan Gowa? Berdasarkan  leteraur yang ada baik itu lontarak Patturioloang maupun cerita yang berkembang di masyarakat, serta buku dari kerajaan tetangga seperti dari Aceh atau negeri Melayu lainnya, menyebutkan bahwa Islam sudah berkembang di wilayah timur Nusantara pada abad 13 dan 14 silam.

Ini kalau kita lihat masuknya Islam  di beberapa kerajaan di Aceh yang dimulai pada abad ke 13 silam, menandakan bahwa masuknya Islam di negeri tersebut merupakan awal mula berkembangnya Islam di nusantara ini. Mulai dari Minangkabau dan Pulau Sumatera pada umumnya, sampai ke  Borneo terus ke Sulawesi, Islam mengalami perkembangan pesat.

Berkembangnya Islam saat itu  dibawah oleh para pedagang dari berbagai negeri yang beragama Islam, seperti  dari jasirah Arab,  Melayu dan , Aceh dan Minangkabau. Meraka datang ke Gowa , selain berdagang, juga menyebar syiar Islam. Tapi Islam berkembang di kerajaan Gowa saat ini masih secara individual atau perorangan. Baik itu dilakukan oleh individu secara sukarela karena melihat Islam itu adalah agama yang sesuai dengan adat istiadat mereka. Agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kawin mawin antara pendatang yang beragama Islam  dengan penduduk setempat, sehingga di negeri ini lahir peranakan Arab yang diberi gelar Tuang atau Tambi., atau Sayyed . Demikian juga turunan dari negeri Melayu, banyak  turunan mereka  yang bergelak Encik sebagai sebutan  dri negeri Melayu

Ketika Raja Gowa IX I Daeng Matanre Karaeng Manguntungi atau lebih tersohor dengan julukan Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Ketika masa beliau, telah memindahkan Ibukota kerjaan Gowa dari bukit Tamalate ke daerah pesisir Sombaopu. Dengan berpidahnya Ibukota kerajaan saat itu, otomatis menjadikan Gowa, tak hanya dikenal sebagai kerajaan Agraris juga terkenal sebagai kerajaan Maritim.

Di daerah pesisir Sombaopu, dibangin istana kerajaan,  dan dikelilingi benteng pertahanan  yang terbuat dari gundukuan tanah liat. Di daerah pesisir yang tak jauh dari istana, dibangun pula sebuah dermaga sebagai pintu masuk pedagang dari luar maupun lokal untuk memasarkan hasil dagangan sekali gus mencari komoditi yang bisa dipasarkan ke berbagai negara.

Dengan adanya pelabuhan di Sombaopu, otomartis peragang dari luar negeri, terutamna  dari negeri Arab dan Melayu banyak berdatangan ke Butta Gowa. Kedatangan mereka tak hanya sekedar berdagang, tapi juga mengembangkan syiar Islam, baik melalui perkawinan juga lewat da’wah.

Dalam Sejarah Bontonompo dijelaskan, bahwa Karaeng Tumapakrisik Kallonna yang mengawini  seorang gadis Bangwasawan Bontomatekne dan melahirkan seorang anak laki-laki. Namun  setelah  ia mengawini gadis itu, tak cukup sebulan ia meninggalkannya. Tak lama kemudian  istrinya itu mengandung dan akhirnya membuahkan seorang anak laki-laki. Singkat cerita, anaknya itu setelah dewasa, pergi menemui ayahnya di Istana Kerajaan  di Sombaopu. Setelah  sang anak diterima di istana, selanjutnya putranya kemudian dikirim ke Bone untuk mendalami pendidikan agama Islam antara lain mengaji di Pondok pesantren yang diasuh oleh Arung Lemopapek.. Rupanya anaknya itu berjodoh dengan gadis Bone. Ia kawin dan dikaruniai dua orang anak bernama Kare Maddatuang dan Kare Tulolo. Setelah besar kedua putranya itu  ingin kembali ke negeri leluhurnya. Kare Maddatuang dibekali Bendera Gaukang dan Kare Tulolo dibekali sebuah pedang. Hingga kini peninggalan Kare Maddatuang berupa bendera Gaukang yang bertuliskan pedang Zulfikar dan pada empat sudutnya bertuliskan nama Nabi Muhammad SAW, Abubakar, Umar, Usman. Dan Ali bin Abi Thalib.

Dari penelusuran cerita rakyat itu, menandakan bahwa  Islam sudah berkembang baik di Tana Bone maupun di Tanah Gowa saat itu. Walaupun Raja Gowa belum masuk Islam, akan tetapi Raja Gowa sangat respon dengan nili-nilai Islam yang ditandai dengan mengirim putranya untuk berguru di pondokan Arung Lemoapek saat itu.

Dalam Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan  yang dkutip dari Lontarak Bilangnya Gowa Tallo disebutkan:  Sejak masa pemerintahan Raja Gowa 10 bernama I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga (1545 – 1565) di daerah pesisir Kerajaan Gowa telah ditemukan perkampungan muslim, terdiri dari  pedagang dari negeri Melayu, Campa, Patani, Johor dan Minangkabau dan dari  negeri Gujarat Arab Saudi. (Ensiklopedi Sjarah Sulsel, hal 308).

Ketika Gowa dipimpin oleh Raja  Gowa ke 12 bernama I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa, beliau telah banyak menggalang persahabatan dengan negara tetangga, sehingga pengaruh Gowa semakin meluas ke berbagai kerajaan di nusantara ini. Dalam Lontarak Patturioloanna tu Gowaya dijelaskan bahwa Karaeng I Manggorai Daeng Mameta menggalang persahabatan dengan beberapa daerah kerajaan di nusantara ini,  antara lain negeri Banjar,  Melayu,  Pahang,  Johon, beberapa kerajaan di Jawa dan dari Maluku.

Saat pemerintahan I Manggorai Daeng Mammeta,  Selayar pernah ditaklukkan oleh prajurit  dari Kerajaan Ternate yang saat itu dipimpin oleh Sultan Baabullah. Saat pendudukan prajurit Ternate yang oleh orang Selayar  dikenal dengan namapasukan Serangiyah (Pasukan dari Serang, salah satu  wilayah di Ternate),. Perlawanan rakyat Selayat yang dipimpin oleh Maddukallang Daeng Silasa dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Gowa sehingga terjadi pertempuran yang sangat seruh.

Pertempuran pasukan Selayar yang dibantu pasukan Kerajaan Gowa melawan pasukan Ternate berakhir, setelah ada pembicaraan damai antara Sultan Baabullah dari Ternate dengan  Raja Gowa I Manggorai Daeng Mammeta. Dari hasil pembicaraan, terjadi kesepakatan untuk mengahiri perang dengan catatan,  Sultan Ternate bersedia menyerahkan Selayat masuk dalam wilayah Kerajaan Gowa dengan syarat Gowa harus membangun sebuah masjid di sekitar bandar niaga Sombaopu. Permintaan  Sultan Baabullah itu diterima baik oleh Raja Gowa, maka dibangunlah sebuah masjid di kampung Mangallekana dan disebut Masjid Mangallekana. Keberadaan Masjid Mangallekana ini, menjadi pusat da’wah dari para pedagang  muslim muapun warga muslim di Gowa untuk menyampaikan syiar Islam bagi masyarakat luas.

Dalam Lontarak Bilang disebutkan, bahwa Raja yang pertama masuk Islam adalah Raja Gowa ke 14 bernama  I Manga’rangi Daeng Manrabbia yang bergelar Sultan Alauddin dan Mangkubuminya I Mallingkaan Daeng Nyonri yng bergelar Sultan Awwalul Islam pada abad 16. Namun dalam Lontarak Patturioloanna Tu Gowaya disebutkan, bahwa Raja I Manggorai Daeng Mammeta sudah  muslim dan beliau bergelar Sultan Nuruddin.

Apakah Raja Gowa ke 12   saat itu  sudah masuk Islam atau tidak, namun yang  jelas, Raja Gowa I Manggorai saat itu sudah membangun sebuah masjid di Kampung Mangallekana  sebagai tempat ibada dan sekaligus  tempat untuk menyampaikan da’wah syiar Islam di Kerjaan Gowa.

Pada masa itu pula,  pedagang dari Portugis sedang gencar-gencarnya untuk melaksanakan misi  kristenisasi (Katolik), namun dari misi kristenisasi  pedagang Portugis yang dipimpin oleh  Gubernur Portugis di Ternate Pedro D’ Atande bersama Alfonso Albuquerque (1534) . Dari upaya kristenisasi ini gagal, karena mendapat reaksi keras dari umat Islam yang ada di Kerajaan Gowa.

Tantangan warga muslim dari  upaya kristenisasi orang Portugis saat itu menandakan, bahwa Islam sudah berkembang di Kerajaan Gowa, walaupun Islam belum dijadikan sebagai Agama Kerajaan.

Pedagang muslim di Kerajaan Gowa telah berupaya untuk mengajak Raja Gowa memeluk Islam tetapi selalu gagal, walaupun mereka berhasil mengembangkan islam secara individual, tetapi untuk mengajk pemimpin mereka masuk Islam, belum berhasil.

Upaya ulama darinegeri Melayu terutama dari Minangkabau untuk mengislamkan di Kerajaan Gowa terus dipelajari. Dri hasil penelusuran  budaya di Kerajaan Gowa, membuktikan bahwa  masyarakat di Sulawesi Selatan  sangat kental dengan budaya patrinealnya atau budaya kebapaan., maksudnya masyarakat Gowa masih taat pada pemimpinnya yang diakui masih dari turunan dewa –dewi dari negeri kayangan (Tumanurung). Manakalah pemimpin mereka berhasil  diIslamkan, maka seluruh rakyat Gowa akan memeluk Islam.

Mengemban misi Islam dari negeri Melayu, maka diutuslah tiga orang ulama dari negeri Minangkabau yakni Khatib Tunggal yang bergelar Datu Ri Bandang, Khatib Sulung yang bergelar Datuk Patimang dan Khatib Bungsu bergelar Datuk di Tiro.

Datu Patimang diutus ke negeri Luwu untuk mengajak  Datu atau Pajung di Luwu untuk masuk Islam. Datu ri Tiro pergi ke Tiro untuk mengajak Raja Gantarang dan Bulukumba pada umumnya untuk  masuk Islam. Sedang Datuk ri Bandang diutus ke Gowa untuk mengajak Raja Gowa dan rakyatnya masuk islam.

Ketika Dato ri Bandang menginjakkan kakinya di Pelabuhan Sombaopu, ia menuju sebuah tempat istirahat, sambil ia melaksanakan shalat dan berzikir dengan tasbihnya dan memulai membaca ayat suci Al Qur’an yang menbuat warga setempat terpukau mendengarnya. Kejadian itu, rakyat segera melaporkan ke Raja Tallo I Mallingkang Daeng Nyonri.

Raja Tallo I Mallingkaan bergegas ke tempat Dato ri Bandang, dan sekali gus mengajak Dato pergi ke istana untuk bertemu denganRaja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabbia.

Dri pertemun itu, terjadi dialog antara Raja Tallo dengan Dato ri Bandang. Raja Tallo I Mallingkaang bertanya: Tuhan apa yang kamu somba Dato? Dijawab oleh Dato: “Tuhanku adalah Tuhan kamu juga.’

Dari jawaban itu, Raja Gowa dan Mangkubuminya Raja Tallo semakin terkesan. Dato lalu menyampaikan, bahwa Islam adalah yang datangnya dari Allah, agama keselamatan dunia akhirat, islam agama yang damai. Dari penjelasan itu, kedua pembesar Gowa itu minta pada Dato ri Bandang agar keduanya di Islamkan, sekali gus minta pada Dato agar tinggal di butta Gowa untuk menyampaikan syiar Islam.

Setelah  Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabbia bersama Mangkubuminya I Mallingkaan Daeng Nyonri menerima Islam sebagai  agamanya, maka I Mangarangi mendapat gelar Siultan Alauddin dn Mangkubuminya I Mallingkaan mendapat gelar Sultan Awwalul Islam.

Setelah kedua tokoh itu menetima Islam sebagai agama kerajaan, maka diikuti oleh pembesarnya, seperti Gallarrang dan Karaeng serta seluruh rakyat Gowa ikut diIslamkan dengan mengucapkan dua kalima syahadat sebagai tanda mereka masuk Islam.

Setelah Islam dijadikan sebagaai Agama kerjaan di Gowa, maka dilakukanlah  shalat jum’at pertama di Tallo pada 9 November 1607 (18 Rajab 1016 H) seperti yang dikemukakan Ligtvoet :

Hera 1607 Hajera’ sanna’ 1017, 9 Novembere, 18 Ra’jab hari juma Naunru mammenteng jumaka ri Tallo, uru Sallantaa. (1607 Hijriah, 9 November, 18 Rajjab, hari jum’at, mula-mul diadakan sholat jum’at di Tallo, ketika pertamna-tama masuk Islam (Ensiklopedi Sejarah Sulsel” hal.110).

Dengan diterimanya Islam sebagai agama Kerajaan di butta Gowa, maka otomatis Gowa saat itu menjadi pusat penyebaran agama Islam di wilayah timur nusantara ini. Raja Gowaa Sultan Alauddin mengembangkan Islam dengan dua cara, yakni melalui da’wah dan melalui perang.  Ada beberapa Raja yang diajak masuk islam kemudian menolak, sehingga diambil  cara perang oleh orang Bugis disebut Musu’ Asselenge (perang mengembangkan afgama Islam). Taopi kebanyakan menerima Islam  melalui da’wah, sehingga tak sulit baginya untuk menyebarkan Islam.

Kemudahan da’wah Islam tersebut, karena sebelumnya ada perjanjian: Siapa yang lebih dulu menemukan kebaikan, maka ia wajib menyampaikan pada raja-raja lainnya. Islam sat itu dianggap sebagai sebuah kebaikan untuk kehidupan dunia akhirat, maka Sultan Alauddin punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebaikan itu pada rekan-rekannya sesama raja.

Sultan Alauddin juga berusaha memperluas wilayah kerajaannya sambil menyebarkan Islam pada daerah taklukannya. Pada masanya, daerah yang berhasil ditaklukkan adalah : Bulukumba, Bilusu, Sidenreng, Lamuru, Soppeng, Wajo, Bone, sebgiaan Tempe, Bulu Cenrana, Wawoni, Bilokka,  Lemo, Pakkalabu, Campaga dan lainnya. Kemudian kerajaan Gowa menaklukkan Bima, Dompu, Sumbawa, Kekelu,  Sanggara, Buton,  Pancana, Tubungku, Banggai,  Buol, Gorongtalo, Larompong, Salaparang (lombok), Pasere (Kalimantan Timur) , Kutai,  mengalahkan Kaili (Sulawesi Tengah) dan lain-lainnya. Raja Gowa juga menggalang persahabatan dengan Raja Aceh dan Mataram . (Ensiklopedi Sejarah Sulsel: Hal 469 – 470).

Dasar Islam yang kokoh itu ditanamkan oleh Raja Gowa Sultan Alauddin, kemudian dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya.  Kekokohan  ajaran Islam di Suilawesi Selatan itu diuji dengan masuknya Belanda untuk menyebaskan  agama kristen, namundari ajaran itu, umat Islam di  Sulawesi Selatan dan Gowa khususnya tak pernah goyah bahkan terus berkembang hingga sekarang ini.

Penulis : Zainuddin Tika

About the author

Darsam

Leave a Comment