You are here: Home » Budaya » Eksistensi Suku To Dakka Di Sulawesi Barat

Eksistensi Suku To Dakka Di Sulawesi Barat

IMG_6623-3Polewali Mamasa (Polmas) yang kini berubah nama menjadi Polewali Mandar (Polman) ternyata banyak dihuni oleh beberapa suku. Selama ini masyarakat luar hanya mengenal suku Mandar di daerah Sulawesi Barat, tetapi setelah ditelusuri secara mendalam, ternyata di daerah Polman telah banyak ditemui suku bangsa di daerah itu, diantaranya adalah suku To Dakka, suku Pannei dan suku Pattae.

Ketiga jenis suku bangsa yang berada di daerah Polman itu masing-masing memiliki bahasa yang berbeda dengan suku Mandar. Seperti halnya kata ‘besar’ dalam bahasa Mandar disebut Kayyang, dalam bahasa To Dakka disebut Katongko. Demikian pula kata Makan, dalam bahasa mandar disebut mande dan dalam bahasa To Dakka disebut kumanre.

Adanya perbedaan bahasa itulah menguatkan asumsi bahwa suku To Dakka memang ada sejak zaman nenek moyang dulu bersamaan lahirnya suku-suku bangsa di nusantara ini, seperti suku Jawa, Betawi, Sunda, dll.
Suku To Dakka yang banyak mendiami daerah Kabupaten Polman (Kecamatan Tapango, Wonomulyo dan Kecamatan Matakali), Majene, mamasa, mamuju, mamuju utara sampai ke negeri jiran Malaysia, Singapura, Brunai, Banlades, India, bahkan sampai Ketimur Tengah, Benua Amerika dan Eropa. Kini sudah banyak bercampur baur dengan suku-suku lainnya di nusantara ini, seperti suku mandar, Bugis, Makassar, Toraja, Jawa dan masih banyak suku lainnya yang kawin – mawin dengan suku To Dakka.

Dari perkawinan beda suku itulah, membuat suku To Dakka makin kehilangan jati diri. Anak yang lahir dari perkawinan antar suku inilah yang banyak tidak kenal suku aslinya, yakni To Dakka, yang mereka tahu selama ini adalah suku Mandar, Bugis dan suku lainnya yang selama ini banyak muncul di masyarakat.
Kurangnya masyarakat To Dakka yang mengakui dirinya sebagai suku To Dakka, bukan berarti suku To Dakka makin berkurang, tetap saja bertambah sama dengan perkembangan suku-suku lainnya, hanya saja dalam perkembangan zaman, suku To Dakka makin tenggelam dengan perkembangan suku-suku lainya. Orang To Dakka kawin dengan suku Mandar, maka yang ditonjolkan adalah suku Mandar, demikian halnya dengan suku lainnya. Hal seperti itulah, membuat suku To Dakka kehilangan jati diri.

Saat daerah di Sulawesi Barat masih menjadi daerah Sulawesi Selatan, di Sulawesi Selatan hanya dikenal empat suku bangsa yang mendiaminya, yakni suku Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja, sedangkan suku lainnya yang penduduknya relative kecil mulai tenggelam dan jarang disebut dipermukaan.

Tenggelamnya suku-suku kecil di permukaan di daerah Polewali mandar maupun di Sulawesi Barat umumnya, membuat generasi yang lahir belakangan ini, tidak mengenal lagi suku aslinya, yakni suku To Dakka, yang mereka tahu adalah suku Mandar. Demikian halnya bahasa daerah sehari-harinya, mereka kebanyakan menggunakan bahasa Mandar, sedangkan bahasa To Dakka terasa asing baginya, walaupun mereka tahu artinya, tapi tak mampu mengucapkannya. Kondisi seperti inilah membuat budaya suku To Dakka dimasa datang akan lenyap di permukaan.
Namun begitu, hingga kini masih banyak orang-orang tua di daerah Kecamatan Tapango, Matakali, Wonomulyo, Mapilli, Anreapi, yang memelihara budaya To Dakka. Mereka tak mau dikatakan suku Mandar, dan lebih bersemangat bila disebut suku To Dakka. Demikian halnya dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa To Dakka.Walaupun anak-anak mereka dari suku To Dakka ini, lebih kental berbahasa mandar, Bugis, ketimbang bahasa To Dakka. Inilah salah satu ancaman hilangnya budaya To Dakka dimasa datang.

Salamun, salah seorang tokoh suku To Dakka mengatakan, bahwa suku To Dakka sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu, bersamaan lahirnya suku-suku bangsa di nusantara ini, namun dalam perkembangannya, suku To Dakka seakan tenggelam sebagai akibat dari kebijakan Pemerintah yang hanya memperkenalkan 4 macam suku bangsa di Sulawesi selatan dulu, yakni suku Makassar, Bugis , Mandar dan Toraja. Padahal, kata Salamun, suku kecil di Sulawesi Selatan memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda dengan suku lainnya.

Pasca lepasnya Sulawesi barat dari Sulawesi Selatan memberikan ruang gerak suku-suku kecil yang tidak diakui oleh pemerintah Sulawesi Selatan untuk bangkit dan mendeklarasikan dirinya dengan cepat di Sulawesi Barat Inilah yang membuat, banyak suku di daerah Sulawesi Barat tetap bertahan, seperti halnya dengan suku To Dakka.
Menelusuri beberapa daerah pedesaan di kecamatan Tapango, Wonomulyo dan Matakali, Mapilli, Anreapia, nampaknya masih banyak warga, khususnya orang-orang tua yang masih memelihara budaya To Dakka, khususnya menyangkut bahasa To Dakka. Sesama orang tua To Dakka, mereka lebih cenderung berbahasa To Dakka, namun bagi anak-anak mereka yang sudah terkontaminasi dengan budaya Mandar dan budaya lainnya, mereka merasa asing dengan bahasa daerahnya sendiri.

Sebagian generasi To Dakka sekarang, mereka hanya tahu bahwa To Dakka adalah bagian dari suku Mandar, sehingga bahasa daerah yang dikenalnya hanya bahasa Mandar, sedangkan bahasa To Dakka yang merupakan bahasa asli nenek moyangnya, terlupakan begitu saja. Mereka beranggapan, bahwa To Dakka bukanlah suku bangsa, dan hanya bagian dari sebuah perkampungan kecil di daerah Mandar.

Untuk melestarikan budaya To Dakka kedepan, perlu kiranya dibentuk suatu lembaga pengkajian bahasa To Dakka. dengan hadirnya lembaga pengkajian bahasa To Dakka ini, para orang tua dengan mudah memperkenalkan budaya To Dakka pada generasi muda. Demikian halnya bahasa To Dakka, jangan sampai hilang di permukaan. Orang tua harus membudayakan bahasa To Dakka bagi anak-anaknya, khusnya dalam berkomunikasi setiap harinya. Bahasa To Dakka harus bisa menjadi bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-hari, baik antar anggota keluarga maupun sesama anggota masyarakat.

Para orang tua suku To Dakka di daerah Tapango yang merupakan kolompok mayoritas suku To Dakka, kini masih banyak yang memelihara adat dan budaya To Dakka, seperti halnya dalam adat perkawinan, kematian, pesta panen, acara aqiqah dan kebiasaan lainnya. Dalam acara kematian misalnya, suku To Dakka beranggapan, bahwa Almarhum/Almarhuma itu selama 40 hari rohnya masih ada di rumah tempat tinggalnya. Keberadaan roh Almarhum/Almarhuma itu disimbolkan dengan kain kafan yang ada dalam tempat tidur. Setiap harinya diberi makanan nasi empat rupa juga ayam panggang, namun pada akhirnya sipemilik rumahlah yang memakannya.
Walau masih banyak orang tua yang masih memegang teguh adat istiadat suku To Dakka, namun generasi sekarang nampaknya sudah banyak yang tidak peduli dengan tradisi nenek moyangnya. Mereka lebih cenderung larut dalam peradaban di abad modern ini.

Suku To Dakka selama ini memang dikenal sangat terbuka, mau menerima suku apa saja yang masuk ke daerahnya. Seperti halnya masuknya orang jawa untuk bertransmigrasi di daerah itu, membuat daerah itu kian maju. Namun dampaknya, orang Jawa yang telah lama bermukim di daerah transmigrasi terus berkembang, hingga daerah yang ditempatinya diubah menjadi nama yang berbau jawa, yakni Wonomulyo yang kini menjadi salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Masuknya orang Jawa di daerah Polman, membuat suku To Dakka banyak berkulturasi dengan budaya Jawa, Orang Jawa juga banyak yang kawin dengan suku To Dakka. Akulturasi dua budaya yang berbeda inilah, membuat budaya daerah setempat semakin terkikis, akhirnya menghilang. Begitu juga dengan suku-suku lainnya seperti, Pattae, Pannei, hingga budaya To Dakka hampir mengalami kepunahan.///(Nurdin Hamma*)

*  Ketua Dewan Pembina, Komunitas Pencinta Budaya To Dakka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *