wordtrekanswers.org Word Trek answers Caterpillar Word Trek answers Chipmunk Word Trek answers Lion Word Trek answers Tiger Word Trek answers Mars Word Trek answers Greendor
Dialog tentang Tuhan, antara Arung Matoa La Sangkuru dan Datuk Sulaiman - SEMPUGI
Sejarah

Dialog tentang Tuhan, antara Arung Matoa La Sangkuru dan Datuk Sulaiman

Penyebar Islam datang ke Sulawesi, bukan satu kali, namun beberapa kali. Paling tua yang tercatat adalah Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husaini. Namun boleh jadi, ada yang mendahului beliau. Sementara di Kerajaan Goa tercatat, akibat runtuhnya Benteng Malaka oleh serangan Portugis 1511, Sombayya telah menampung para pendatang Melayu yang beragama Islam. Bahkan mengizinkan pendirian mesjid. Namun kerajaan Goa dan tetangganya tidak serta merta memeluk Islam.

Kedatangan 3 Datuk (Datuk Sulaiman ke Luwu, Datuk Ri Bandang di Tallo dan Datuk ri Tiro di Bulukumba), berhasil mengislamkan para raja-raja. Terlebih dahulu Maddika Bua yang mengantar Datuk Sulaiman bertemu Datu Luwu dan menerima Islam, serta Datuk Ri Bandang yang berhasil mengislamkan Karaeng Matoaya.

Setelah dua kerajaan besar (Luwu dan Goa) menganut Islam, maka proses Islamisasi dilanjutkan didataran tengah. Mulai dari pesisir Selat Makassar, seperti kerajaan Siang (pangkep), Suppa dan Sawitto (pinrang), Sidenreng, Soppeng, Wajo dan terakhir Bone ditahun 1612

Saat Wajo akan memeluk Islam, terjadi dialog antara Datuk Sulaiman atau Datuk Pattimang dengan Arung Matowa Wajo saat itu yaitu La Sangkuru Patau Mulajaji tentang Tuhan. Dialog itu terekam dalam Lontara Sukkuna Wajo, yang menggambarkan bagaimana kepercayaan dimasa lalu. Adapun kutipan dialognya sebagai berikut

Alqissah naiya riwettu engkanana Dato Sulaiman ri Wajo sitani Arung Matowae La Sangkuru nakkutanani Arung Matowae tampu’na asellengengnge. Makkedai Dato, iko pauwanga riolo aga akkasioremmu. Ri poadanni ri Arung Matowae bicaranna Dewata Seuwae Puang Seuwae. Iyami mappakangka, mappade’. Patuo Pauno, Puweng memengngi tekepammula tekkepaccappureng. De nakkeonrong sangadinna akkelo, na agi agi apoelo iyatoni nangoloi ati sibawa watakkale. Makkoniro akkatenningeng ri pomanae ri Arung Matowae La Mungkace To Uddamang Matinroe ri Kananna napomana massossoreng

Alkisah diwaktu kedatangan Datuk Sulaiman di Wajo, bertemu dengan Arung Matowa La Sangkuru. (Maka) Bertanyalah Arung Matowa (tentang) kandungan (ajaran) Islam. Berkata Datuk Sulaiman, anda (sebaiknya) mengatakan terlebih dahulu apa pegangan anda. Dikatakanlah oleh Arung Matowa perihal Dewata Seuwae Puang Seuwae. Dialah yang menciptakan dan menghancurkan. Menghidupkan (dan) Mematikan. Tuhan tak berawal (dan) tak berakhir (abadi). Tidak bertempat kecuali kehendakNYA. Apapun kehendaki itu juga yang dihadapkan hati dan tubuh. Demikianlah pegangan (kami) yang diwarisi dari Arung Matowa La Mungkace To Uddamang Matinroe ri Kannana diwarisi turun temurun.

Makkedai Dato, madecengnisatu usedding tampu’mu Arung Matowa iyatu muasenge Dewata Seuwae Puang Seuwa iyanaritu Allah Taala majeppu de’duanna tenrijajiang teppajajiang de’to sikupu seuwa, de to risompa sangadinae. De’ patuo pauno sangadinae, nae madecengngi muwalai anunappesangkangnge naharange nabitta Muhamma, nakado Arung Matowae

Berkata Datuk Sulaiman, saya rasa keyakinanmu Arung Matowa yang anda maksud Dewata Seuwae Puang Seuwae adalah Allah Ta ala yang sesungguhnya tidak ada duanya tak dilahirkan (dan) tak melahirkan dan tidak ada yang menyamainya, tidak ada disembah kecuali DIA. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali DIA. Maka baiklah anda meninggalkan apa yang dilarang (dan) diharamkan nabi kita Muhammad SAW. (dan) Mengangguklah (tanda setuju) Arung Matowa

Mesjid Tua Tosora

Dari dialog diatas dapat disimpulkan bahwa Datuk Sulaiman tidak mengajarkan tentang konsepsi Ketuhanan kecuali menegaskan kembali. Datuk Sulaiman menyamakan makna kata “Dewata Seuwae Puang Seuwae” dengan “Allah Ta ala” setelah dijelaskan oleh Arung Matowa. Sehingga konsekwensi dari menyembah Tuhan adalah meninggalkan segala larangannya dan yang diharamkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 Menyesuaikan dengan tradisi Bugis, Arung Matowa beserta perangkat adat dan rakyatnya mengadakan “mandi suci” kemudian bersumpah. Setelah itu tanggal 15 Shafar 1019 barulah beliau bersyahadat bersama Timurung, Pammana (La Mappapoli to Pasajoi Datu Pammana), Gilireng, Belawa dan Pitu riawa

(sumber : www.diskusilepas.com)

Terjemahan bebas

About the author

Andi Rahmat Munawar

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.