Word Trek answers Word Trek answers Crab Word Trek answers Owl Word Trek answers Donkey Word Trek answers Orangutan Word Trek answers Odus Word Trek answers Ariel
budaya tradisional
Budaya

Budaya Tradisional Kian Tergeser

Written by admin
zainuddin tika

zainuddin tika

Budaya tradisional pada zaman dulu, seperti gendang (ganrang pakarena), royong (nyanyian sakral), tari-tarian, salonreng,  sangat sarat dengan makna kehidupan manusia. Sebab  musik atau nyanyian tradisional tersebut, pada zaman animisme, dianggap sebagai media komunikasi antara warga dengan dewata di langit. Ini sudah ada sebelum Islam masuk di daerah ini.

Setelah Islam masuk, maka seni  dan nyanyian tradisional tersebut, tidak dihilangkan, tetapi malah saling menguatkan. Seni tradisional dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan syiar-syiar Islam ke  masyarakat luas, bahkan banyak gerak tari yang mencerminkan sebagai budaya yng bernuansa islami, seperti tari pepe-pepeka ri Makka.

Dengan perkembangan teknologi Informasi sekarang ini, sangat besar pengaruhnya pada  perkembangan budaya tradisionil. Budaya tradisional sekarang kian terjepit di tengah arus globalisasi. Akibat kemajuan teknologi informasi tersebut,  budaya tradisionl berangsur-angsur ditinggalkan dan berpaling pada teknologi modern.

Adanya pergeseran   budaya tradisional menurut Syarifuddin Tutu, salah seorang pekerja seni di  Sulawesi Selatan, perkembangan teknologi yang semakin menggoda orang untuk memakainya dan dianggap lebih menarik dan mudah dilaksanakan, lagi pula  pemerintah kurang perhatian terhadap pelestarian budaya tradisional.

Hal tersebut dapat dilihat sebagai perbandingan, pada zaman dulu, setiap   orang mengadakan pesta atau acara, selalu dihibur dengan musik tradisional, seperti ganrang pakarena, pakacaping, pasinrili, pagambusu, pamasari dan masih banyak lainnya. Sekarang ini, musik tradisional seperti itu, sudah jarang lagi dijumpai. Kebanyakan yang dipakai untuk memeriahkan pesta adalah elekton, orkes yang dianggap lebih praktis dan banyak mengundang masyarakat untuk datang.

Bila dibandingkan, pesta perkawinan misalnya, menggunakan hiburan dengan pakacapin atau sinrili, paling yang datang adalah para tetangga. Tapi kalau elekton atau orkes, biarpun warga yang sangat jauh, bila mendengar lagu kesayangannya, mereka akan datang menyaksikannya.

Padahal musik tradisional  seperti kacaping, sinrili, tanjidor,  pada zaman dulu  telah banyak digemari oleh masyarakat, karena   musik trdisional itulah merupakan satu-satunya hiburan yang sangat menarik bagi masyarakat. Bahkan Pemerintah Kerajaan pada zaman dulu, menggunakan musik tradisional tersebut  sebagai hiburan, supaya  bisa mengundang banyak orang untuk datang. Bila  semua warganya berdatangan, maka  sang Raja mulai  naik panggung dan menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakatnya.

Dahulu pada tahun-tahun  1970  dan 80 an, Pemerintah dalam hal ini Departemen Penerangan, sering  masuk keliling desa untuk melakukan pemutaran filim di lapangan. Setelah keliling kampung mengadakan pengumuman, maka pada malam harinya warga berdatangan ke lapangan dimaksud. Saat itu pula, dilakukan pemutaran film, dan disela-sela istirahat itu, pemerintah mernyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat, terutama pesan pembangunan, seperti  masyarakat dituntut untuk melunasi PBB, bergotong royong memperbaiki irigasi dan sebagainya. *
Penulis: Zainuddin Tika

About the author

admin

Ordinary People

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.