Word Trek solutions Word Trek answers Frog Word Trek answers Owl Word Trek answers Deer Word Trek answers Whale Word Trek answers Mars Word Trek answers Jupiter
bissu segeri
Budaya

Bissu : Terpinggir dalam Ruang Modernitas

Written by Nurul Fajri
Photo by: Acc

Photo by: Chaerum

Musik menghentak dari tabuhan gendang pada Sabtu (22/11) malam. Di teras Saoraja Segeri, istana kerajaan yang berbentuk rumah panggung, penuh sesak masyarakat menyaksikan Tarian Maggiri’. Empat orang Bissu menggunakan pakaian adat dilengkapi badik atau keris menyentuh kulit mereka. Gerak mereka yang berlawanan arah jarum jam mengelilingi Arajang (pusaka bertuah) sesekali membuat kayu rumah panggung bergetar. Ini penanda arwah leluhur telah merasuki mereka. Riuh penonton menderu ketika senjata bertuah tak melukai kulit mereka. Tarian ini hanya bisa kita saksikan sekali dalam setahun.

Jumat – Minggu (21-23/12) menjadi waktu digelarnya upacara adat Mappalili, sebuah ritual yang menandai kesyukuran masyarakat Segeri sebelum turun menanam padi. Prosesi ini dipimpin oleh Bissu, Calabai, klasifikasi gender dalam tradisi Bugis. Calabai berasal dari kata sala bai atau sala baine yang berarti bukan perempuan. Tidak semua Calabai adalah Bissu. Tidak semua Bissu juga adalah Calabai. Bissu menjadi sebutan bagi laki-laki yang lebih mengaktualkan sisi feminitasnya dan menghilangkan sifat maskulinnya. Dalam Lontara, literatur yang mencatat kebiasaan masyarakat Bugis, menyebut bahwa Bissu berasal dari kata “Ma’bessi” yang berarti suci, tidak kotor, tidak memiliki payudara serta tidak mengalami menstruasi (Manusia Bissu: 2008).

Di masa lalu, Bissu bertugas sebagai penyambung lidah rakyat kepada raja. Posisinya yang sakral dalam Addatuang (kerajaan) membuat mereka memiliki posisi penting. Mereka adalah perlambang kemakmuran. Namun dalam masyarakat modern yang menitikberatkan kemajuan pada pembangunan fisik, Bissu tidak lagi dilirik sebagai komunitas yang menarik. Perkembangan masyarakat modern telah meminggirkan mereka. Bissu hanya dinilai sebatas pemimpin ritual, tidak lebih. Inilah yang disebut political sphere oleh Henry La Febre. Komunitas Bissu yang awalnya berjumlah empat puluh, terpinggirkan oleh pandangan masyarakat yang dijajah virus modernitas. Bissu, tarian Maggiri, serta prosesi Mappalili yang masih berlangsung di Segeri, Kabupaten Pangkep, digerus ruangnya secara kasat mata.

Kehidupan ekonomi Bissu tidak lagi dijamin oleh penguasa setempat. Pembangunan yang berlangsung kemudian melirik bissu sebagai bahan jualan bagi masyarakat yang haus akan tradisi adat. Mereka hanya dilihat sebatas tontonan langka yang bisa diarak ke mana-mana. Terang saja, ini terlihat dari beberapa undangan yang menampilkan atraksi Bissu serta Badik bertuah yang tak mempan di kulit mereka. Kekebalan Bissu dalam ritual Maggiri adalah sajian kelas internasional rasa lokal. Mulai Pangkep sampai Makassar, dari Belanda hingga Jogjakarta, mereka telah mementaskan tarian Maggiri di harapan ribuan pasang mata.

Bissu yang mendiami tanah Segeri, telah menjadi objek kajian dari berbagai kalangan. Dari akademisi hingga jurnalis, telah menelurkan tulisan mengenai pemimpin upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan, kematian, pelepasan nazar, juga pemimpin upacara tolak bala ini. Manusia Bissu yang diterbitkan oleh Pustaka Refleksi menjadi salah satu referensi bacaan guna mengisi kekosongan pengetahuan. Waria sakti, begitu M. Farid W M, Dg Patangnga menyebut Bissu, diuraikan lengkap bersama sejarah munculnya.

Sebagai pendeta Bugis kuno, Bissu terpaksa bertahan dalam peliknya kehidupan ekonomi. Dulu, mereka diberi berhektar-hertak tanah sebagai lahan garapan dalam membiayai ritual yang mereka pimpin. Kini, mereka harus puas menjadi perias pengantin atau sekedar bekerja di salon milik waria lainnya. Keberadaan Bissu pun perlahan punah. Mereka yang kini terpinggirkan, berpotensi menjadi mitos masa depan jika generasi manusia tak memberikan posisi yang tepat pada mereka. Bissu, sebagaimana komunitas minoritas lain di Indonesia, haruslah diberi ruang. Mereka bahkan sarat menjadi korban pelanggaran HAM sebab pandangan kontroversi yang diproduksi di masyarakat.

Puang Matoa, pemimpin spiritual Bissu, menaruh harapan agar kelestarian budaya tetap terjaga. “Tenna podo gau-gauketta mannannungeng ri esso ri monre*,” ungkapnya usai Mappalili di Saoraja, Minggu (23/11). (NF)

Catatan:
Artinya:
*Mudah-mudahan acara ini bisa terlaksana dari tahun ke tahun sesuai dengan tradisi setempat

About the author

Nurul Fajri

Sempugi's Writer

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.