Word up solutions Word Trek answers Butterfly Word Trek answers Ostrich Word Trek answers Rat Word Trek answers Pigeon Word Trek answers Genius Word Trek answers Borox
Aluk Todolo, Agama Purba Toraya - SEMPUGI
Budaya Sejarah Wallpaper / Photo

Aluk Todolo, Agama Purba Toraya

Written by admin

Aluk Todolo atau Alukta adalah aturan tata hidup yang telah dimiliki sejak dahulu oleh masyarakat Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan, dan sistem kepercayaan.

Dalam hal keyakinan, penduduk Suku Toraja percaya kepada satu Pencipta  yang tunggal. Zat Tunggal  yang tunggal itu disebut dengan istilah Puang Matua (Tuhan yang maha mulia). Meski begitu, penganut Aluk Todolo relatif terbuka terhadap modernisasi dan dunia luar. Mereka meyakini, aturan yang dibuat leluhurnya akan memberikan rasa aman, mendamaikan, menyejahterakan, serta memberi kemakmuran warga.

Walau terbuka bagi agama luar, warga sepakat, yang telah menganut selain Aluk Todolo wajib keluar dari Dusun Kanan. Tentu saja mereka tetap boleh berkunjung ke sana, tapi tak dapat tinggal lama.

tongkonan

Tradisi sukacita masyarakat Toraja mensyukuri pembangunan/renovasi Tongkonan (rumah adat keluarga). Ekslusif Photo By :erich.parwatha

Di luar penganut Aluk Todolo, sekalipun bangsawan dan memiliki banyak uang, mereka tidak boleh dimakamkan dengan ritual pa’tomate, upacara penguburan jenazah khas dusun. Penganut Aluk Todolo menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Mereka begitu tegas menerapkan aturan leluhur. Berani melanggar berarti bakal menyengsarakan warga dusun, misalnya mendatangkan petaka gagal panen. Semua kesalahan dan kecurangan berhadapan dengan hukum dan hal itu berlaku bagi semua, termasuk keluarga dekat, saudara jauh, atau pendatang.

Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta, menurut kepercayaan Aluk Todolo, dibagi menjadi dunia atas (surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya.

Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (Dewa Bumi), Indo’ Ongon-Ongon (Dewi Gempa Bumi), Pong Lalondong (Dewa Kematian), Indo’ Belo Tumbang (Dewi Pengobatan), dan lainnya.

Hewan tinggal di dunia bawah. Dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar. Bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana.

Di dalam menjalankan ritualnya, Aluk Todolo mengenal dua macam yaitu: Upacara kedukaan disebut Rambu Solok dan Rambu Tuka sebagai upacara kegembiraan. Upacara Rambu Solok meiliputi tujuh tahapan, yaitu: Rapasan, Barata Kendek, Todi Balang, Todi Rondon, Todi Sangoloi, Di Silli, dan Todi Tanaan. Sementara itu, upacara Rambu Tuka pun meliputi tujuh tahapan, yaitu; Tananan Bua’, Tokonan Tedong, Batemanurun, Surasan Tallang, Remesan Para, Tangkean Suru, Kapuran Pangugan.

To minaa adalah pendeta Aluk Todolo yang dianggap sebagai pemegang kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman.

Kepercayaan Aluk Todolo bukan hanya sistem keyakinan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk Todolo mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk Todolo bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.

aluk

Ne’Dena’ (kanan), penganut ‘Aluk Todolo (kepercayaan leluhur masyarakat Toraja) ditemani seorang muridnya (kiri) sedang melafalkan doa sambil menyembelih seekor ayam yang akan dipersembahkan melalui sesajen kepada arwah leluhur dalam suatu upacara/tradisi membersihkan patung leluhur. Photo By : Erich Parwatha

Aluk Todolo pernah menjadi tali pengikat masyarakat toraja yang begitu kuat, bahkan menjadi landasan kesatuan sang torayan yang sangat kokoh sehingga kemanapun orang toraja pergi akan selalu ingat kampung halaman, dan rindu untuk kembali kesana. Ikatan batin yang Sangtorayan yang begitu kokoh tentu saja antara lain adalah buah-buah dari tempaan Aluk Todolo itu. Karena itu kita patut prihatin bila aluk todolo itu kini nyaris lenyap diterpa arus dunia modern. Maka mari kita pikirkan bersama warisan leluhur yang begitu berharga ini.

Menurut mitos ajaran Aluk Todolo, bahwa Puang Matua menciptakan segala isi bumi ini pertama – tama dengan menciptakan 8 ( delapan ) Mahluk diatas Langit melalui tempayan yang disebut Saun Sibarrung, yang ajarannya menurut mitos yaitu :

Malemi tu Puang Matua rokko matampu’ unnembong bulawan tasak ponno sepu’na doing to’ mata uai. Umpatiangka’mi to’ kabo’toran kulla’ unseno tinggi nene’ tangkarauan lempan karappi’na diongto’ kalimbuang boba. Sulemi Puang Matua diongmai rampe matampu’ tibalikmi to kaubanan diongmai to’ kabo’toran kulla’. Nabolloan barra’mi Puang Matua bulaan tasak tama Saun Sibarrung, nabakku’ amboranmi  to kaubanan nene’tang karauan tama suling pada dua. Napasarussui’mi Puang Matua Saun Sibarrung na pataranak mi to kaubanan suling pada dua. Dadi mi nene’na to Sanda karua tokkon mi todolo kasaunganannya to ganna’ bilanganna pada umposanga sanganna :

Nene’na To lino disanga Datu’ La Ukku’
Nene’na Ipo disanga Merrante
Nene’na Kapa’ disanga La Ungku’
Nene’na Bassi disanga Irako
Nene’na Tedong disanga Menturini
Nene’na Uran disanga Pong Pirik – Pirik
Nene’ na Pare disanga Lamemme
Nene’na Manuk disanga Menturiri

Artinya :
Berangkatlah sang pencipta ke sebelah barat mengambil sebakul emas dan kembali membawa bakulnya itu dan dimasukkannya kedalam sebuah tempayan yang dinamakan Saun Sibarrung dan kemudian dihembusnya Saun Sibarrung itu lalu terciptalah 8 ( delapan ) macam nenek mahluk dari dalamnya dan masing – masing diberi nama :

Nenek dari Manusia diberi nama Datu’ La Ukku’
Nenek dari Racun diberi nama Merrante
Nenek dariKapas diberi nama La Ungku’
Nenek dari Besi diberi nama Irako
Nenek dari Kerbau diberi nama Menturini
Nenek dari Hujan diberi nama Pong Pirik – Pirik
Nenek dari Padi diberi nama Lamemme
Nenek dari Ayam diberi nama Menturiri

Setelah Puang Matua menciptakan kedelapan mahluk terseut maka kepada Nenek Manusia yaitu Datu’ La Ukku’ diberi satu aturan atau ketentuan setelah Puang Matua menikahkannya dengan To Tabang Tua yang diciptakan pulah oleh Puang Matua. Aturan itu lah yang dinamakan sukaran aluk yang dikelak diikiti oleh keturunan Datu’ La Ukku’ bernama Pong Mula Tau sebagai manusia pertama yang turun dari langit membawa sukaran aluk.

Dalam sukaran aluk dari Puang Matua tersebut terdapat beberapa pokok – pokok ketentuan dan aturan namun pada dasarnya terbagi atas :

Ajaran percaya dan memuja kepada 3 (tiga) oknim
Azas pemujaan dan penyembahan

Sukaran Aluk ini sejak dulu dianut oleh Orang Toraja yang dalam perkembangannya sudah beberapa kali mendapatkan penyempurnaan yaitu setelah manusia membuat pelanggaran Sukaran Aluk dibagian selatan oleh Puang – Puang Londong di Rura kemudian seorang Ahli Sukaran Aluk bernama Pong Sulo Ara’ dari Utara Toraja bekerja sama dengan Penguasa baru dari Banua Puan Marinding yaitu Ma’Dika Tangdilino’ menyusun kembali aturan itu yang dikenal dengan Aluk Sanda Pitunna yang dianggap sudah lengkap mencakup seluruh pergaulan dan kehidupan manusia serta aturan pemujaan kepada Puang Matuan ( Sang Pencipta ), Deata – Deata ( Sang Pemelihara ), dan To Membali Puang ( Leluhur sebagai pengawas kehidupan ).

Berhubung Sukaran Aluk ini adalah agama yang dianut oleh orang – orang Toraja dulu yaitu nenek moyang Suku Toraja. Maka Sukaran aluk yang telah disempurnakan itu dinamakan Aluk Todolo dalam penyebarannya didalam masyarakat guna membedakan Aluk Sanda Pitunna yang sudah di pengaruhi oleh ajaran – ajaran Aluk Sanda Saratu dari Puang Tomanurun Tamboro Langi’. dan dimasa sekarang ini hanya dikenal sebagai Aluk Todolo Baik itu Aluk Sanda Pitunna maupun Aluk Sanda Saratu’. Dan Masyarakat Toraja sekarang ini mengenal Aluk Todolo sebagai tempat berpijaknya Kebudayaan Toraja.

Sumber  :

Main Home

http://toraja-culture.blogspot.co.id

About the author

admin

Ordinary People

Leave a Comment