Word up answers Word Trek answers Frog Word Trek answers Crocodile Word Trek answers Koala Bear Word Trek answers Octopus Word Trek answers Mercury Word Trek answers Prism
Pemangku Adat bukan Selebriti - SEMPUGI
Budaya

Pemangku Adat bukan Selebriti

Ramai di group FB yg berbasis budaya membicarakan tentang oknum2 vandalisme tatanan budaya yg telah berusia ratusan tahun demi kepentingan pribadi atau sebuah golongan. Kasus yg nampaknya juga terjadi di beberapa Masyarakat Adat di beberapa Provinsi lain. Biasanya vandalisme budaya itu umumnya berlatar belakang politik, atau perebutan aset, atau lebih parah lagi arahan penasehat spiritual. Sisanya memang dualisme pendukung kandidat putra mahkota.

Dalam opini kami yg sederhana, sependek pengetahuan pribadi berdasarkan fakta referensi. Ada 3 hal utama perkuatan seorang Pemangku Adat:

1. SILSILAH/NASAB YANG VALID Kandidat diambil dari trah Pemangku Adat yg terahir dilantik, nasabnya vertikal dari kakek, ke Ayahnya lalu ke kandidat ini sebagai ‘putra/putri mahkota’. Nasab ini biasanya diperkuat dgn dokumen silsilah yg valid. Secara logika jg bisa ditelusuri ke masyarakat Adat sepuh/senior yg normal ingatannya, sebagai saksi.
2. PUTUSAN DEWAN ADAT Setiap komunitas adat selalu mempunyai Dewan Adat sebagi MPR & DPR dalam sistemnya. Mereka mempunyai lajur tersendiri dalam silsilah mereka, trah mereka juga dipetakan tersendiri sebagai sebuah klan eksklusif dalam sebuah sistem Monarki. Keputusan dari Dewan Adat yg valid adalah mutlak dan keabsahannya dipertanggung jawabkan oleh anggotanya. Mereka yg mengatur protokoler penobatan Pemangku Adat berikut protokoler penggunaan Regalia/Pusaka Kerajaan. Dewan Adat adalah hal pertama yg wajib terbentuk dalam pembentukan sebuah sistem Monarki/kerajaan. Dewan Adat yg sah dan terjaga originalitasnya akan menentukan Pemangku Adat yg PATEN.
3. PRIBADI AGUNG Setelah Dewan Adat telah menentukan seorang kandidat Pemangku Adat, berdasarkan validasi silsilah. Hal berikutnya yg harus diperhatikan adalah Personifikasi. Seorang Pemangku Adat akan membawa amanah menjaga tatanan etika serta memimpin komunitasnya yg pasti terdiri dari berbagai karakter dan tendensi nan kompleks. Diperlukan sosok yg bukan saja berjiwa pemimpin, berifat mengayomi, berani dan bermental baja, mampu membuat keputusan yg bijaksana, adil & jujur. Bila mengacu pada standarisasi seorang kandidat Pemangku Adat pada sebuah kerajaan di Sulawesi Selatan. Seorang Putra Mahkota harus : Jujur, berani, beriman, mempunyai harta & ada komunitas pribadinya.

Berdasarkan 3 poin tadi saya pribadi menilai sahnya seorang Pemangku Adat (atau kadang mereka lebih senang menyebutnya : RAJA) adalah berdasarkan seleksi Dewan Adat yg sah. Pemangku Adat yg diangkat oleh Dewan Adat palsu yg dibentuk karena kepentingan Politik, akan menghasilkan Pemangku Adat boneka untuk penggalangan massa pemilu. Demikian juga dengan Dewan Adat bentukan para mafia tanah, akan menghasilkan Pemangku Adat palsu sebagai boneka untuk perkuatan berkas kepemilikan dan jual beli tanah.

Orang awam akan menghujat pewaris trah asli, karena tidak memperjuangkan haknya sebagai pewaris asli. Ini terjadi karena masyarakat awam lebih terbiasa pada sistem Pilkada. Mereka tidak faham bahwa etika Monarki yang original, bukan Raja yg mengumpulkan Rakyatnya, tapi Rakyat yg bersepakat memilih rajanya. Sebagaimana sejarah awal terbentuknya 5 kerajaan tertua di Sulawesi Selatan.

Pemangku Adat bukanlah sebagai selebritas, namun lebih berat karena mengemban amanah leluhur, pelestari budaya, penjaga persatuan komunitas masyarakat adatnya, penetral dan perpanjangan tangan aparat Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga tatanan sosial berbangsa dan Bernegara. Sejujurnya posisi itu adalah pengorbanan bukan ajang mencari kesempatan;

Source : Note A. Sirajuddin dengan judul SEPENDEK PENGETAHUAN SAYA tanggal 15 Februari 2016

About the author

Andi Rahmat Munawar

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.